Arti Sebuah Kamera

Dua bulan lalu aku menjual kamera yang padahal sangat enak sekali.

Itu adalah Olympus OM-D E-M5 II. Aku pakai sekitar enam bulan lah, kameranya baik-baik saja, malahan mungkin adalah kamera terbaik yang bisa kamu dapatkan di harga lima jutaan. Enggak rusak atau saya butuh uang segala macam kok, itu hanya siklus aja. Mau sesuka apa pun saya pada sebuah kamera, biasanya kalau sudah enam bulan ya saya jual.

nah seperti ini kameranya

Tentu ada juga motivasi ingin coba kamera lain lagi, dan saya tidak cukup kaya untuk nambah koleksi tanpa menjual hahaha. Tadinya aku ingin ambil lagi Lumix GX9, namun hingga tulisan ini dibuat, itu barang tidak pernah muncul di marketplace (setidaknya yang kondisinya sangat baik dan mulus). Jadilah saya stuck pakai digicam Samsung EX-1 yang masih tersisa di dry cabinet.

Sejujurnya aku baik-baik saja, dan kalau mau sombong… ya saya ini sangat hebat. Pakai kamera sejutaan pun masih bisa bikin foto yang cukup okelah. Banyak kenalanku yang kayaknya gak bisa kalau gak pakai kamera minimal 20 juta, padahal cuma nyetrit, dan hasilnya gitu-gitu saja.

Tapi ya memang ini adalah kamera lama, dan dari awal pun memang digicam biasa hahaha. Sensornya kecil sekali. Yang paling terasa ya dynamic range sangat miskin, serta performa ISO mengenaskan. Kalau perkara noise sih aku gak masalah, mau fotonya bintik-bintik sekalipun ya biarin. Asal formatnya bisa RAW, ya olah tipis-tipis lah, walau mesti penuh maklum.

Yang agak bikin jengkel di kamera ini, dia gak mau kalau pakai flash eksternal ditancap di hot shoe, tapi kalau pakai trigger baru bisa. Jadinya saya terpaksa beli trigger, dan flashnya mesti saya pegang di tangan kiri… kayak Bruce Gilden. Kondisi itu bikin layar kameranya gelap sekali, karena tidak ada pilihan “constant preview”. Layarnya baru akan terang jika flash internalnya saya buka, dan tentu tidak bisa karena keganjel triger. Oleh sebab itu, belakangan saya motret pakai mata batin hahaha. Itu saja sih, sisanya ya lemot-lemot bisa saya maklum lah, kamera tua.

Sebetulnya bulan lalu pertolongan tiba, sahabat saya meminjamkan EOS M6 dan lensa fix 22mm. Bukan berarti aku tidak bersyukur, tapi kamera itu sangat mengerikan. Review sudah saya tulis di sini.

Akhirnya kamera itu lebih banyak menganggur di dry cabinet. Daripada lecet-lecet tanpa makna toh saya pakai pun malah nyusahin, jadi saya biarkan saja tanpa dipakai. Tetap saja sehari-hari aku bawanya digicam Samsung ini.

Tempo hari ada Thread yang menggelitik. Entah apa motivasinya, tapi seseorang bertanya adakah yang pakai Leica hasilnya jelek hahaha. Mungkin sudah gedek kebanyakan foto kamera tapi hasilnya biasa saja. Ya aku komen saja, ada banyak malah saya kenal beberapa. Jaman dahulu sih kalau lihat foto, kadang suka menganalisis sendiri, tone dan ketajamannya pasti Leica nih. Kalau sekarang sih, udah langsung ditulis di depan… “Leica M10” dan semacamnya hahahaha. Jadinya, ya gimana ya… ini ibarat ketemu orang baru kenal, terus kamu bilang “eh gue punya Ducati Panigale”. Langsung deh image kamu tuh suka ngebut bahkan handal balapan, padahal belum tentu… bisa saja cuma dipakai keliling komplek. Mencari validasi sudah next level, kayak mendompleng nama Leica, berharap ada aura yang langsung bisa dipinjam dan serta-merta fotonya langsung penuh karisma.

Kadang juga ada Thread menarik, kayak bahas kamera lama, dengan judul “kamera jadul tahun sekian bisa apa sih…” , ya walau isinya foto gedung biasa saja, yang ditonjolkan adalah preset Lightroom cetar membahana, yang bakal bikin foto apa pun terlihat luar biasa. Mana ada bahas sampai detail kecil, getaran flange shutter dll. Yang penting konten, kasih warna ngejreng, beres deh.

Demikian, aku merasa pakai kamera jadul nan murah tuh memberi kesan tersendiri. Jika kita butuh segala faktor hingga tergabung 100% untuk bikin sebuah foto, kayaknya faktor kamera jadi cuma 10%, ya 90% sisanya penuhi sendiri. Jadinya melatih skill sudah jelas. Kebayang kalau cuma street di Braga kamu mesti saja pakai kamera 30jt, itu… jadinya peran fotografer jadi cuma mencet tombol.

Tentu hal-hal tadi bukan berarti saya melarang beli kamera mahal, karena saya pun kadang beli. Namun lebih sebagai motivasi, jika kamu hanya punya kamera murah, ya gak apa-apa. Mungkin kamu sangat hebat, hanya butuh kamera jelek untuk berkarya, toh sebagian besar unsur penting lain yakni sang “man behind the gun” sangat mumpuni. Kepekaan, visi serta kelincahan akan lebih didorong habis-habisan… Tidak ada alasan untuk bersedih, kecuali kalau kamu pakai kamera 30 juta dan hasilnya malah gak ada istimewanya haha.

Untuk motivasi yang lebih lanjut, silakan baca di sini ya.

Dengan melihat harga kamera baru semakin tidak wajar, dan kamera bekas pun sama saja… kayaknya nanti gak jauh-jauh, saya bakal beli MFT lagi, toh untukku itu sudah lebih dari cukup. Ya GX9 itu tadi maunya sih, tapi belum ada aja. Jadinya terpaksa saya masih stuck pakai digicam. Kadang kalau dapat subjek yang sangat menarik, agak gusar juga sih, kesempatan langka tapi diabadikan pakai kamera yang kurang bertenaga. Namun makin ke sini, aku makin memaklumi ketidak sempurnaan, apalagi untuk foto di jalanan…

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram