Karena satu dan lain hal, aku tidak pernah punya kamera ini. Tapi ya akhirnya beli juga…
Haha aku beli Lumix GX9. Ini kejadiannya mirip dengan pas GX85, itu kamera yang sangat populer apalagi di ekosistem MFT, yang mana saya kalau pakai mirrorless hampir pasti MFT (tapi seringnya Olympus). Dan itu GX85 di luar dugaan saya, kok sangat bagus, menang banyak untuk harga segitu. Namun sayang sekali flashnya meledak, jadi saya harus ganti kamera.
Pindah ke Nikon Coopix A beberapa bulan. Nyaman juga. Tapi sahabat saya yang bernama Mas Nanung, naksir sama kamera itu. Selaku di masa lalu beliau pernah dua kali mengoper Ricoh GR limited edition ke saya, maka saya tak kuasa menolak, pasti dipakai dengan baik, jadi ya saya jual. Kemudian, saya mempertimbangkan dengan sangat untuk kali ini harus beli GX9…
Eh… mahal-mahal bener masangnya, delapan juta ke atas. Budget saya memang muat sih tapi kalau delapan juta sama lensa kit, harus jajan lagi. Jadilah aku beli Olympus E-PL8 dan lensa 12mm… ya daripada bodinya bagus tapi lensa kit, aku mending bodi lawas tapi lensanya bagus. Tak diduga, sahabat saya yang bernama Santoso, menghibahkan satu lensa yakni Olympus 25mm untuk saya. Ya itu setara 50mm sih agak janggal buat saya, tapi namanya dikasih ‘kan… jadi saya punya lagi dua lensa tuh, eh esoknya pas temu kangen dengan Uwak Sambara, ada temannya yang bernama Aji menawar kamera saya beserta lensa 12mm itu. Ya sudah.

Jadinya begitu, di tangan ada lensa 25mm, dan gak punya bodi. Kali ini gak ada alasan lagi, aku harus beli GX9, kamera yang aku incar sejak lama…
Nah… setelah punya, aku gak langsung bisa pakai, karena jujur aku tidak nyaman turun ke jalan dengan lensa 25mm alias 50mm lantaran terlalu dekat. Jadilah aku beli dulu lensa 17mm F/1.8 Olympus, yang tidak pernah mengecewakan. Btw ini bukan review, ini hanya cerita. Aku agak kaget, sekarang lensa ini pasti di atas 3 juta batangan pula… sekitar beberapa bulan lalu harganya stabil di bawah 3 juta tuh pasti fullset kondisi mint. Aku curiga, eksistensi lensa-lensa lawas makin habis. Ya gimana ya, bukan tidak mampu beli lensa seri “Pro”, tapi ukurannya besar-besar, otomatis membatatalkan premis pakai MFT yang mana mengincar portabilitas.
Ceritanya belilah… eh pas datang, optiknya baret-baret dan jamuran, jelas langsung aku retur. Dan ini sangat buang-buang waktu… daripada week end tidak memotret, aku pinjam dulu lensa 14mm F/2.5 punya Mas Raka. Foto-foto di bagian awal, diambil dengan lensa itu. Ya tapi lensa ini susah sekali buat zone focus, karena tidak ada meterannya. Namun aku dengan gembira bisa mengabarkan, bahwa AF kamera ini sangat cepat dan akurat walau malam hari.

Beberapa hari kemudian, aku beli lagi lensa 17mm. Terpaksa warna silver karena ini satu-satunya yang sehat dan harganya wajar, kebetulan sellernya pemain lama yang meyakinkan. Sial… ternyata silvernya Olympus beda dengan top plate GX9… si GX9 silvernya agak gelap, gunmetal gitu haha. Tapi ya mau gimana lagi…

Oh iya, ada satu kejadian aneh. Kamera ini aku terima dalam kondisi luar biasa mulus. Belum sempat langsung saya pakai karena gak ada lensa, aku taruh di dry cabinet yang suhunya begitu-begitu saja selama dua tahun belakangan. Eh… sekitar 2mm kulitnya mengkerut dengan sendirinya dong… ini sangat bikin jengkel, tidak diapa-apakan kok bisa begini… saya curiga ada udara terperangkap, dan ketika kena suhu kering, jadinya keriput. Gedek banget rasanya, terpaksa saya kletekin dan tutup cutting sticker.
Belakangan aku cari tahu, sekedar ganti kulit itunya pun, servis resmi Lumix harus inden tanpa waktu dan estimasi biaya. Ah… kacau ah. Ini memang sama sekali tidak fatal apalagi merusak foto, tapi bikin gak enak hati aja… 99.99% like new, tapi ada codet secuil. Masa iya harus saya ganti pakai jok mobil MB-Tech…
Ya kurang lebih begitu… akhirnya saya bisa pakai dengan proper karena lensa sudah ada… bagaimana rasa pakai kamera ini…? btw aku dapat di harga tujuh juta kurang sedikit. Ini lebih mahal tiga juta daripada GX85, memangnya upgrade beneran terasa…?
Well, terus terang, kameranya enak-enak saja, selaku pernah pakai GX85 ya rasanya mirip-mirip. Malahan terlalu mirip, jadi kayak gak ada beda. Untuk kebutuhan street, sudah lebih dari cukup. AF cepat dan akurat, DR cukup-cukup saja asalkan motret dalam format RAW.
Pertama-tama, agak di luar kebiasaan aku beli kamera warna silver padahal ada versi hitamnya. Namun melihat fakta bahwa GX85 saya yang hitam itu ketika sudah lecet-lecet jelek sekali, sedangkan punya orang lain yang silver kok bagus-bagus aja, sepertinya aku harus ambil warna silver. Lagipula silvernya Lumix agak gunmetal gitu, lebih gelap jadi gak terlalu mengilap. Walau tetap saja, untuk street sih lebih enak kamera hitam agar tidak mencolok.
Aku tidak bisa bandingkan side by side karena sudah tidak punya GX85, namun aku yakin GX9 sedikit lebih besar, kurang lebih ukurannya mirip X-E3 lah. Masih dalam batas nyaman dan gak bikin berat.
Susunan tombolnya mirip-mirip GX85, hanya saja kali ini ada roda exp comp besar sekali, yang niscaya selamanya tidak akan pernah saya putar. Juga jadi ada tuas AF-MF di atas layar, dan ada pop up flash… inilah yang bikin saya pilih GX9 padahal budget segitu bisa beli E-M5 II bahkan III. Namun itu juga yang bikin saya was-was, jangan-jangan ntar meledak lagi… selaku saya sangat sering menggunakan flash.

Feel di genggaman sama-sama saja, lumayan nyaman karena ada grip walau sedikit. Oh… kamera ini EVFnya bisa ditekuk ke atas, kayak GX7 dan GX8. Saya tidak bisa membayangkan dalam situasi apapun akan pakai EVF dengan cara seperti itu… mungkin kalau motret siang bolong. Apapun itu, lumayan daripada gak ada. Aku pribadi jarang pakai EVF, terlebih EVF Lumix agak pedes di mata.
Satu perubahan yang aku sambut baik adalah layarnya. Naik jadi 1.2 juta dot, walau sebenarnya 1 juta dot seperti GX85 pun tak masalah asalkan warnanya bener… sayangnya si GX85 warna layarnya selalu saya keluhkan, terlalu orange dan kasar nuansa tonenya, padahal hasil fotonya baik-baik saja kalau dibuka di laptop. Pada GX9, wah layarnya bagus sekali, selain lebih tajam, warnanya jauh lebih enak di mata.
Yang juga berubah adalah tampilan menunya. Sejak dulu menurutku menu Lumix adalah yang terbaik, sangat simpel dan berurutan. Kini semakin baik karena ikon-ikon dan kolomnya jadi lebih modern dan elegan. Dan karena kamera ini banyak sekali fiturnya, sepertinya akan banyak menu yang tidak bakal pernah saya sentuh semisal 4K Photo atau Post Focus.
Hasil fotonya… ya seperti Lumix. Color science sudah berubah, tapi fotoku pasti monokrom jadi ya… gak ngaruh. Tapi yang jelas, warnanya natural. Kalau ketajaman sih bergantung lensa dan gimana cara motretnya, namun secara umum ya pasti sangat tajam, ini 20mp tanpa anti aliasing filter. IBIS pada kamera ini… gila, saya bisa bikin long exposure dua detik full dipegang sendiri tanpa tripod. Artinya apa? artinya kalau motret malam, bisa hemat ISO, karena menurunkan shutter speed tidak akan jadi perkara.

Ah… kamera ini baterainya gak berubah dari dulu, tapi mesinnya semakin kencang, jadilah efisiensinya agak payah… wajib punya baterai cadangan minimal dua. Kalem, beli aja Kingma, seratus ribuan.
Intinya menurutku ini kamera yang sangat bagus. Melihat harganya, saingan dari brand lain adalah Fuji X-E3 dan Olympus Pen F. Oh si GX9 menang banyak, fitur lebih lengkap, makenya juga jauh lebih enak, dan bisa video dengan sangat layak. Kalau kamu tidak peduli dengan video, Pen F lebih layak dikoleksi karena harganya semakin mahal. Fuji X-E3 ya bagus tapi minim fitur, IBIS pun tak punya, aaah.

Namun dengan melihat ada yang namanya GX85 dan harganya jauh di bawah, rasanya agak gimana ya… kalau tetap ngotot ingin Lumix yang bentuknya kecil begini, agaknya GX85 lebih untung. Fitur mirip-mirip tapi harga beda jauh. Kecuali kalau kamu memang ingin melipat EVF ke atas kayak mikroskop, ya harus GX9.
Pokoknya, dana 7 jutaan itu pilihan sangat luas. Tapi kalau mau menang banyak, lensanya murah, fitur melimpah, ya Lumix. Dan Lumix yang buat saya masih menarik, hanya seri GX. Selain itu, sudah terlalu video sentris dan ukurannya membengkak…

