Apakah Foto Human Interest = Yang Kumuh Kumuh?

Jawabannya tentu saja tidak. Tapi kalau sampai sudah ada stigma bahwa human interest itu mesti yang kumuh-kumuh, eksploitasi kemiskinan dll… sedangkan motret yang cantik-cantik itu penjahat, fetish, dll.. berarti ada yang salah dalam dinamika street fotografi kita.

Memotret manusia, apapun bentuknya : tua, muda, cantik, burik, kekar, dll, ya human interest. Kecuali mau dibikin sub-genre baru : kumuhgrafi, women interest, tele300mmgrafi, anak-kecil-loncat-dari-kapal-di-Sunda-Kelapa-grafi dan sebagainya. Lagian sudah 2020 masih membahas terminologi saja.

Saya pribadi gak ada masalah sama yang suka motret seperti itu. Selama yang motret bahagia, maka berhasil sebuah foto. Pada grup-grup Facebook luar negeri, acapkali ada larangan memajang foto kaum homeless, disabilitas, atau eksploitasi kemiskinan. Tapi itu terserah mereka.

Kenapa saya tidak memotret yang begitu? Karena saya dan teman-teman saya sedang menjalankan peran sebagai oposisi. Hahaha. Pada medio 2015 saya membeli sebuah buku foto, penerbit major, isinya tentang human interest fotografi. Waktu itu saya iya iya saja melihat hampir 100% foto di buku itu fotonya di penampungan sampah atau pemukiman kumuh. Namun seiring waktu, saya ingin berusaha sekuat tenaga agar mereka yang baru belajar dalam genre ini punya banyak pilihan untuk ditiru.

Malah saya suka sengaja bikin portrait cewek cantik di samping bapak pemulung. Ya supaya memuaskan banyak kubu… kubu yang suka cewek cantik, dan kubu yang suka bapak pemulung. Peace.