Pertama dan paling penting, lindungi kamera dari air. Bisa dengan pakai payung, bisa juga hanya menunggu momen di tempat yang terlindungi. Tidak ada kamera yang water proof, adanya water resistant. Itu pun hanya cipratan ringan dan pastinya kamera high-end. Besar kemungkinan tidak ada frame kamu yang bernilai seharga kamera tersebut, makanya keselamatan kamera lebih utama.
Kedua, hm, kurangi ekspektasi. Jangan berharap ada kerumunan pejalan kaki semuanya pakai payung pakai mantel keren macam di Shibuya, karena kebanyakan orang di kita tidak bawa payung atau malah lebih suka berteduh. Mungkin saja jalanan akan jadi kosong sama sekali. Langka juga ada cewek pakai payung bening misalnya. Kalau yang ada logo bank atau kopi kemasan, mungkin ada, jauh dari estetis. Atau kamu mau pakai tele, motret anak jalanan gosokin kaca mobil pakai spons dan sabun cuci piring? Ya boleh saja.
Ketiga. Kamu mungkin akan butuh cahaya tambahan. Karena kalau hujan ya langitnya mendung, apalagi kalau sudah sore dan tentunya malam. Tembakan cahaya flash yang mengenai butiran air di udara akan menghasilkan estetika yang menarik. Harap diperhatikan, orang akan jauh lebih kaget ketika kena flash saat hujan, karena akan meyangka itu kilat petir.

Keempat, daripada berjalan-jalan gak karuan, lebih baik dekati tempat orang berkumpul meneduh. Mereka tidak bakal bisa “kabur” dari bidikan lensa, hahaha.
Kelima, lebih baik tunggu agak reda. Selain lebih baik untuk badan dan kamera, ketika reda orang akan mulai bermunculan. Akan lebih banyak frame menarik. Mungkin saja mereka tetap pakai jaket ditudungkan melindungi kepala, melompati genangan air, atau malah baru berari buka payung ketika intensitas hujan mereda. Jangan lupakan juga, setelah hujan aspal jalanan akan mengkilap, kamu akan menemukan frame-frame baru dibanding saat cerah.

