Sepertinya tren ini bukannya menurun, alih-alih makin populer. Oleh sebab itu saya akan memberi edukasi, supaya kamu efektif dan efisien saat jajan~
Apa bukti tren ini makin gila? ada tiga sih…
1. Di jalanan, makin banyak yang bawa-bawa digicam
2. Brand mapan mulai ‘ngeh’ dan mengeluarkan lagi kamera pocket, contohnya Yashica atau Lumix TZ99
3. Dan tentunya… harga di marketplace semakin weleh-weleh…
(Bahkan “Yashica” tanpa segan-segan bikin kamera yang… ah, gitulah. Sedangkan Lumix, betul-betul menjiwai sekali nostalgia digicam… bisa-bisanya di tahun 2025 kasih sensor 1/2.3″, padahal kameranya di range harga 1″)
Buat saya, pengertian “digicam” sendiri adalah kamera point and shoot mungil dengan sensor kecil terutama keluaran tahun 2000 sampai 2010. Ada beberapa grup digicam Facebook yang membuat definisi asalkan lensanya tak bisa diganti. Well, jika batasannya hanya lensa nempel, maka Leica Q3 juga termasuk. Padahal sensornya full frame, dan sama sekali tidak mungil. Serta karena tak ada batasan soal ukuran sensor, Ricoh GR dan Coolpix A pun bisa masuk. Ini agak rancu, karena walau ukurannya kecil tapi performa dan hasil fotonya terlalu bagus…

Tentunya tidak salah juga kalau hasil fotonya terlalu bagus, tapi ‘kan segala tren ini disebabkan adanya feel nostalgia terutama sok sok ingin hasil kayak kamera film. Jadi kalau hasilnya terlalu tajam atau akurat, ya malah menentang tujuan awal. Makanya, ukuran sensor yang tepat itu ya di bawah 1″, semisal 1/2.3″ atau 1/1.7″. Memang noise dan surem, tapi ‘kan memang itu yang dicari…
Harus aku kasih tahu di awal, bahwa nyaris tidak ada digicam yang hasilnya bener-bener seperti kamera film. Walau kalian cari yang resolusi rendah, sensor CCD atau umurnya tua, ya tetap saja ini digital. Makanya, peran software pengolah foto ya perlu juga. Nah, preset-preset VSCO, Lightroom atau Analog Efex, itu sangat masuk dan menyerap ketika diterapkan pada foto-foto digicam jadul… justru kalau dipakai pada foto hasil kamera modern, hasilnya agak ‘nabrak’.

Oleh sebab itu, untuk mengejar feel ‘nostalgia’ yang kalian dambakan, aku akan kerucutkan definisi ‘digicam’ yang akan kita bahas, yaitu kamera point and shoot kecil, sensor kecil, tua, dan harganya paling mahal 1.5 juta (setelah digoreng!). Berikut adalah tips-tipsnya…
1. Brand – Harus dari merek mapan. Digicam yang dibuat tahun 2000an artinya umurnya sudah lebih 20 tahun. Jika saat ini brand tersebut masih eksis, artinya brand tersebut mapan dan memang sudah punya pengalaman di bidang kamera.
Jika kamu melihat ada brand gak dikenal tiba-tiba jualan digicam, ah… nanti dijelaskan di poin berikutnya.
Berikut brand yang boleh dibeli : Nikon, Olympus, Canon, Lumix, Leica, Sony, Pentax, Yashica (harus yang tahun 2000an), Ricoh, Fujifilm, Kodak, Casio, Samsung, BenQ.
Tentu di masa sekarang, kamu tak akan melihat lagi Samsung atau BenQ bikin kamera. Tapi mereka bikin di tahun 2000an, itu yang terpenting.


2. Spek – singkatnya, untuk mencapai cita-cita hasil kayak film, yang harus dikejar adalah : sensor CCD dan megapiksel kecil. Tapi sejujurnya, saya pernah pakai digicam CCD yang hasilnya malah terlalu bening dan modern, yaitu Canon A3200. Di lain hal, saya pun pernah pakai Lumix LX7 yang CMOS tapi justru hasilnya jauh lebih vintage dan jadul.

Lagipula, toh nantinya bakal masuk VSCO atau Lightroom, jadi sebetulnya brand apapun dengan spek bagaimana pun, ya sama saja. Tetap berpegang saja, harus CCD dan megapiksel kecil.
Nah, dewasa ini banyak brand gak jelas, tiba-tiba jualan ‘digicam’ dengan spek yang sangat mencolok : 48mp, bisa 4K video, burst 10 FPS dll. Ini sangat absurd, karena digicam jadul beneran mana ada. Aku kasih tahu ya, itu adalah kamera abal-abal yang dirakit dari sensor webcam atau hp jelek. Makanya lensanya tidak bisa optical zoom, bahkan kadang tak bisa auto fokus.
Hasilnya terlihat burem karena memang jelek, bukan karena faktor usia. Bahkan sayangnya, ada satu brand mapan, yang baru-baru ini bikin ‘digicam’ semacam itu. Brand dia sudah diambil alih, dipakai namanya saja, untuk ditempel pada kamera abal-abal.
Oleh sebab itu, selain sensor CCD dan low mp, satu kriteria lain yang harus dimasukkan adalah : keluaran tahun 2000an.

3. Kondisi fisik dan fungsi – namanya kamera bekas apalagi usianya sudah uzur, tentu saja jarang yang masih prima sempurna. Namun, ada hal-hal yang bisa dimaklumi, ada juga yang sebaiknya dihindari saja.
Minus yang masih bisa ditoleril : bekas pakai pada fisik, seperti paint lost atau dent. Lensa berjamur tipis-tipis, penuaan kusam pada layar.
Minus yang harus dihindari : layar vignet apalagi parah (karena lama-lama akan meluas), dead pixel raksasa, flash mati, tombol penting yang tidak berfungsi, debu pada sensor, over eksposur.
Ada satu hal lagi yang niscaya pasti terjadi, yaitu baterai jam soak. Kondisi ini mesti dicermati, karena ada kamera yang tiap cabut baterai hanya akan RESET JAM dan TANGGAL, ada juga yang RESET SEMUANYA. Kendati setingan pada digicam tidak sebanyak kamera modern, tetap saja menjengkelkan kalau tiap menyalakan kamera harus ngatur lagi resolusi, filter, dll. Jangan lupa tanyakan hal ini pada penjual.
Untuk debu pada sensor, cara ngetesnya gampang. Kalau kameranya ada mode manual, atur F ke F/8 atau lebih lalu arahkan ke langit biru. Zoom kalau perlu. Jika muncul bintik-bintik apalagi besar, lupakan saja. Jika tak ada mode manual, ya atur saja ISO atau apapun, hingga memaksa kamera turunkan sendiri angka F karena kondisi terlalu terang.

Sejujurnya, tidak banyak tempat servis yang mau dan mampu benerin digicam. Mereka biasanya bingung harus charge biaya berapa untuk kamera yang harganya di bawah sejuta, sedangkan membongkar cukup rumit karena kameranya tidak umum (jenis digicam ada banyak sekali…!). Kalau harus ganti sesuatu pun, belum tentu partnya ada. Oleh sebab itu, carilah kamera yang minusnya minimal.

4. Baterai, charger, kartu memori – prinsip saya adalah, gak mau beli digicam yang gak ada charger kompatibelnya. Selain kalau beli sendiri agak mahal dan belum tentu ada, solusi murahnya dengan pakai casan kodok yang dijepit itu sangat gila… bisa seharian gak ngisi sama sekali, sudah kapok ah.
Baterai lithium juga ada masa pakainya. Jika sudah jelek, ya harus beli yang baru. Itu jauh lebih rumit lagi. Makanya saya selalu cek dulu, untuk kamera tersebut apakah masih ada yang jual baterainya. Karena sebuah kamera ya pasti bagus asalkan berfungsi, nah untuk dia berfungsi ya mesti ada baterai.
Solusi lain adalah cari kamera yang masih pakai baterai AA. Jadi kalau baterainya habis, ya tinggal beli lagi Alkaline di warung. Nilai lebih dari kamera jenis begitu ya kameranya pasti jadul. Semakin mendekati cita-citamu yang ingin hasil foto kayak analog. Bentuknya pun pasti lebih unik, karena dua baterai AA cukup makan tempat, jadi kameranya pasti agak gendut.

Untuk kartu memori. Kebanyakan pasti SD card sih. Walau slotnya sama, tapi SDHC ya, jangan pakai kartu SDXC apalagi 16gb ke atas karena biasanya tidak kompatibel. Nah untuk kamera tertentu seperti Olympus MJU lawas atau Sony, kadang pakai jenis kartu yang tidak umum semisal XD card atau memori stick pro duo (kayak PSP). Intinya selama kamu punya card reader yang kompatibel ya silakan aja. Tapi kalau kartu memorinya penuh atau rusak, mahal bukan main.
5. Harga – sejujurnya digicam satu juta itu kemahalan. Tapi namanya hukum pasar, permintaan tinggi barang terbatas, ya harganya makin digoreng. Jadi ya… selama kamu suka dan mampu, ya udah gas ajalah.
Ada kamera yang dua jutaan karena nilainya memang segitu, contohnya Lumix LX5. Itu kamera bagus sekali. Tapi ada juga yang dua jutaan padahal harusnya cuma seratus ribu. Sudah tidak ada patokan pasti. Sekali lagi, asal suka dan mampu, dan kameranya memenuhi empat poin yang sudah saya jelaskan, ya gas deh.

Nah sekian tips dan trik kali ini. Semoga kamu bisa mengeluarkan uang dengan efektif, efisien dan elegan. Pokoknya, kalau harganya sudah di atas dua juta, jangan dibeli. Mending cari mirrorless kecil kayak Lumix GF9 atau Olympus E-PL7. Memang hasilnya modern, tapi bisa kok dibikin jadi surem. Yang gak bisa tuh, hasil foto yang surem dibikin jadi tajam modern. Eh bisa sih pakai AI. Tapi ‘kan, dengan kamu ada niatan beli kamera pun, jiwa kamu adalah fotografer bukan ketikgrafer… jadi ya saya dukung.

