Sewaktu masih kanak-kanak, aku berimajinasi bahwa seluruh dunia dan segala peristiwa itu dibuat untuk dipertontonkan kepadaku. Oleh sebab itu, tatkala aku tidak sedang melihatnya, maka ia tidak ada dan tidak pernah terjadi.
Namun setelah dewasa, aku tidak merasa itu sepenuhnya salah. Kita adalah tokoh utama, dan bisa memilih hendak terlibat atau tidak. Ambil keputusan, dan jangan pernah melihat lagi ke belakang.
Aku tidak mau, juga tidak bisa lagi datang ke event wibu. Selain faktor fotografi, yang mana sangat penting untukku. Ada alasan lain yang sangat krusial nan menyedihkan…
Beberapa hari setelah lebaran…
Grup WhatsApp Yoimiya. Anggota : tiga orang
Gorou : Nanti week end di event kalau ketemu Layla, pura-pura gak kenal atau hindari aja…
Albedo : Kenapa?
Guoba : Iya, ada apa nih…
Gorou : (mengirim screenshot)
“Kalau nanti ketemu di event, kalau gua sampai lihat elu, bakal gua tusuk pakai pisau!”
Albedo : Yo, what the fuck…
Guoba : Serem banget, waduh…
Gorou : Nanti kalau ketemu, diceritain…
Esoknya, seperti biasa aku menjemput Gorou. Agenda hari ini adalah menukar tiket untuk acara pekan depan, itu adalah event wibu tahunan terbesar. Setidaknya di kota ini.
“Sebaiknya ceritakan tentang Layla segera…” ujarku sambil menyalakan mesin motor.
“Hayu, jalan dulu aja…” jawabnya.
Langit mendung rintik sejak pagi, tidak membesar, tapi juga tidak pernah mengecil. Kami keluar dari gang, menuju jalan raya.
“Dia tahu kalau urang punya pacar…” ujar Gorou.
“Memang ada ‘kan, dia juga ‘kan punya di Amerika… ngapain marah.” timpalku.
“Dia sih pacar khayalan. Urang gak pernah bilang punya… dia pun gak tanya…”
“Terus…?”
“Kayaknya dia jadi detektif, ketahuan lah urang punya pacar. Takutnya pacar urang diapa-apain…”
“Diapa-apain kenapa…??”
“Nanti pas duduk, urang kasih lihat…”
Setelah menukar tiket, kami duduk di warung kopi, karena hujan semakin enggan berkompromi. Segera Gorou mengeluarkan hp dia yang satunya lagi.
“Ini…” ujarnya, sambil memperlihatkan foto-foto, dan juga video.
“Apaan nih, gak jelas…”
“Itu layar hp satu lagi, dipotret pakai hp ini…”
“Supaya apa?”
“Kan pakai chat IG yang fotonya cuma bisa dibuka sekali. Kalau screenshot, ketahuan. Lagian kalau suruh pakai foto sekali buka, dia bakal percaya untuk kirim-kirim…”
Aku geser-geser, dan kini aku paham kenapa Layla sangat marah.
“Kapan ini kejadiannya?” tanyaku.
“Pas bulan puasa kemarin…”
“Gila, orang lain ibadah, ini malah chat begituan…”
“Iya, dia urang ajarin…”
“Astaga. Ngapain diajarin yang begitu, dia masih bocah…”
“Dia yang mancing-mancing duluan…”
Konten begini, aku sangat familiar. Namun kombinasi dari kamera yang buruk, pencahayaan serta angle yang payah, serta yang terpenting… aku kenal orangnya. Menghasilkan nuansa menggoda, sedih, namun juga marah. Tapi aku bisa apa, toh orangnya mengirim dengan kesadaran penuh.
“Mau denger suaranya pakai earphone?” tanya Gorou.
“Gak usah.” jawabku.
Aku tidak menyangka hubungan mereka akan sejauh – dan seperti ini. Aku juga tidak menyangka, mengapa foto-foto yang harusnya hanya sekali lihat, malah dia abadikan dan diperlihatkan pada orang lain. Aku benar-benar merasa campur aduk.
Hari Sabtu, kami ke event di Braga. Ya, aku sangat ingin untuk ke event, apalagi lokasinya di Braga, wilayah kekuasaan. Combo. Tapi juga ada sedikit rasa takut, bagaimana kalau tiba-tiba Layla muncul dengan pisau cutter besar andalannya dan lantas menikam salah satu di antara kami.
Sudah dekat, jalan kosong langit cerah. Gorou berbelok dengan tidak terlalu meyakinkan, seperti biasa.
“Tapi bagus sih urang ketahuan punya pacar kemarin…”
“Kenapa lagi…?”
“Tadinya kalau gak ada masalah begitu, kami berencana untuk cabut pas lagi di event. Mau check in…” lantas dia memperlihatkan pesan teks dari gadis itu.
Gue pengen lo jadi yang pertama buat gue. I will suck your dick, and you’re gonna eat my pussy.
“Astaga…”
“Tuhan masih sayang…”
“Bisa juga ya inget Tuhan…”
Kami parkir di Circle K rel kereta seperti biasa. Hanya orang tertentu yang tahu kalau inilah spot parkir terbaik. Bahkan dari ujung jalan sini pun, sudah terlihat keramaian, wig warna-warni, serta kostum-kostum yang tiada tara bergelora. Braga diduduki wibu!
“Inget, kalau ketemu Layla, cuekin, atau kabur…” gumam Gorou.
“Ya iyalah, masih sayang nyawa!” semburku.
Jalan kami menuju mall di tengah. Memang, event wibu itu bisa bikin suatu tempat jadi ramai sekali. Kukeluarkan kamera yang baru saja kubeli kemarin, Fuji X70. Sahabat lama. Seperti biasa, mayoritas cosplayer pakai masker, entah apa tujuannya berdandan sedemikian rupa tapi kok pakai begituan.
“Yo teman-teman…” Guoba muncul, dengan setelan luar biasa mencolok.
“Wah tas kamera baru nih…” ujarku. Langsung dia putar ke arah depan.
“Sekalian buat perlindungan, kalau-kalau ada yang mau nusuk…” selorohnya.
“Ya ampun…”
Ya, acaranya normal-normal saja. Padat, panas, sumpek. Di luar cerah sih, mungkin lebih bagus kalau ada model bisa diseret ke luar supaya cahaya dan backgroundnya lebih oke. Aku melihat adegan pingsan lebih dari sekali, juga cewek-cewek yang menangis karena kecopetan.
Sore tiba, kami duduk-duduk di luar sambil merokok. Tiba-tiba aku melihat seseorang di kejauhan.
“Itu Layla!” bisikku.
“Lekas buang muka!” lanjut Guoba.
Tanpa diduga, Gorou malah berdiri.
“Mau ke mana lu?” tanyaku.
“Mau nyamperin. Biar pisah secara baik-baik…”
“Lah…”
Dia lalu berjalan ke arah dalam, kemudian hilang di belokan.
“Gimana sih, katanya pura-pura gak kenal, kok malah disamperin…”
“Entahlah… hubungan cinta-cintaan memang aneh.”
Tak lama kemudian, dengan tergesa-gesa Gorou menghampiri kami.
“Hayu cabut…”
“Kenapa??”
“Layla ngamuk, nangis teriak-teriak di WC…”
“Lah…”
“Udah aing bilang ‘kan…”
Seminggu kemudian. Event yang tiketnya sudah kubeli dari lama, esok tanggal mainnya. Aku mulai berpikir, rasanya bukan ini tujuanku datang ke event dan bikin Yoimiya. Dari segi fotografi dan persahabatan, ini melenceng. Aku turut andil bikin Layla mengalami kejadian buruk ini. Bukan ini yang aku mau, aku tidak pernah berpikir untuk bikin wanita apalagi di bawah umur, dikerjai oleh lelaki yang jauh lebih tua, dipermainkan perasaannya, dan dieksploitasi tubuhnya.
Esoknya hujan rintik sejak pagi. Aku memandangi sungai di belakang rumah, sambil memegangi tiket event seharga seratus ribu itu. Minatku terhadap event-event wibu mulai padam. Dari segi fotografi jelas stagnan, lalu juga aku bertemu orang-orang aneh, serta kejadian memilukan tentang Layla…
Kubuang tiketnya ke sungai. Kuputuskan untuk tidak datang.
Beberapa hari kemudian, aku, Guoba, Zhongli dan Childe berkumpul di warung kopi untuk lanjut street fotografi.
“Jadi kemarin gak dateng kang?” tanya Zhongli, yang juga beli tiket tapi tidak datang, namun tiket dia kami giveaway lewat akun Yoimiya.
“Enggak, euy…” jawabku.
“Eh kenapa nih, Gorou pamit dari grup WhatsApp…?” ujar Guoba sambil memperlihatkan layar hp.
“Lah, di grup IG juga…” sambung Childe.
“Ada apa nih kang…?” Zhongli penasaran.
“Kalau sudah begini, ceritakan sajalah… daripada kalian gak tahu, malah bahaya ntar…” gumamku.
Bergantian denganku, Guoba menceritakan hal-hal yang terjadi di antara Gorou dan Layla. Kejadian sepanjang bulan puasa, penyebab dia murka, serta ancaman penusukan. Zhongli dan Childe terdiam tampak keheranan.
“Beneran dia begitu sama anak di bawah umur?”
“Yang punya masalah mental…?”
“Dengar, sebetulnya dari beberapa pekan lalu sebelum ada hal-hal aneh, aku sudah memutuskan untuk mengurangi atau bahkan tidak akan hadir sama sekali ke acara wibu Jejepangan…” ujarku.
“Kenapa kang?” tanya Childe.
“Dari segi fotografi, aku tidak mendapat yang aku inginkan. Lalu aku juga terlibat hal-hal aneh, semisal dengan Tomie. Tapi yang itu masih ada lucunya sedikit. Khusus yang Layla ini, aku merasa sangat terpukul…”
Semua terdiam.
“Hei, tenanglah. Kita masih akan selalu ngopi dan street fotografi kok.” gumamku, sambil menyeruput kopi susu panas.
“Saya undur diri dulu, ada kesibukan lain.” seperti itu isi chat Gorou, sama persis di kedua grup chat. Tentu sangat tidak masuk akal dan cacat logika, karena grup chat tidak membuat ‘kesibukan’ terganggu. Tinggal tidak usah dibaca atau matikan pemberitahuannya.
Sore itu kami lanjut street fotografi di Braga. Ada yang hilang, tentu saja. Karena memang ada satu anggota yang undur diri. Sebagai orang yang membawa Gorou ke grup ini, aku merasa gusar. Tapi ya sudahlah. Namun jelas, ada sesuatu yang terjadi, yang membuat dia harus memisahkan diri dari kerumunan.
Hari-hari berlalu. Aku berencana untuk menghapus akun Yoimiya. Sejujurnya aku tidak begitu ingin lagi melihat foto-foto cosplayer, apalagi yang pakai masker flu. Bodoh sekali rasanya. Lalu juga memang sudah seperti mati suri. Gorou itu salah satu fotografer Yoimiya, walau kamera aku yang pinjamkan dan bahkan setting exposure pun harus aku yang atur, tapi dia berguna sekali. Saat ini yang login hanya aku dan Guoba, plus Zhongli aku ajak untuk ikut serta. Namun tidak ada yang bisa diandalkan. Guoba hanya memikirkan akun sendiri dan tidak mau menyumbang foto, sementara Zhongli entahlah, aku pesimis dia bisa memberikan sumbangsih. Padahal Yoimiya ini lumayan, bisa memuluskan jalan mencari model untuk portrait casual.
“Hm… nanti aku harus berpisah dengan cewek-cewek ini ya…” gumamku sambil scroll riwayat-riwayat chat. Cukup seru juga sih.
Sampai pada aku sampai di satu chat. Nama ceweknya Kirara. Entah siapa ini yang chat, ngajak portrait tapi bahasanya sangat tidak efektif. Tidak dibalas deh. Cantik juga sih. Sayang sekali, Yoimiya mau udahan. Aku pun tidak akan bertemu gadis ini di event.
Eh… aku chat saja lah. Aku penasaran. Ada sesuatu dari wajahnya yang sangat menarik untukku. Seperti magnet. Ingin sekali memotretnya.
“Mau gak foto casual…? aku kasih 200 ribu dan jajan.” kirimku. Kalau dibalas syukur, gak juga ya sudah.
Di luar dugaan, dibales langsung lho…
“Silakan kak. Maaf baru balas. Mau kapan…?” jawab Kirara.
Wah, cocok sekali sih. Langit pun lagi cerah.
“Sore ini atau besok bisa gak?”
“Hari ini boleh. Kalau besok, harus ke rumah saudara.”
“Boleh… rumah kamu di mana…?”
“Margacinta kak…”
What the… bagai terhembus angin segar. Biasanya cewek cosplayer tuh rumahnya Kopo atau Soreang. Ini Margacinta… cuma beberapa kilo dari rumahku, dan aku pasti lewat sana tiap pergi pulang ke kota. Mendadak langsung semangat, ingin segera bergegas.
“Boleh, boleh. Mau berangkat bareng apa gimana?”
“Boleh kalau kakak mau jemput…”
Iya maulah. Ini jauh lebih menyenangkan, bisa ngobrol dulu sepanjang jalan. Lalu juga tidak ada istilah ngaret di lokasi foto karena dia aku jemput sendiri.
“Oke… jam tiga bisa?”
“Sip aku mandi dulu ya kak…”
“Bajunya apa? jangan pakai kostum wibu… yang normal aja…”
“Iya kak. Minta nomor WhatsApp, buat kirim lokasi…”
“Oke…”
Duaaarrrr. Dari tadinya siang hari yang kering, akan tiba sore yang menyenangkan. Kupersiapkan kamera Fuji X-E3 yang baru kubeli tempo hari. Oh, aku akan menelpon Zhongli. Kalau duet dengan dia, portrait jadi penuh ide, dia juga tidak pelit patungan jajan model…
“Haloooo…”
“Sore ke mana?”
“Gak ke mana-mana kok…”
“Mau ikut portrait, di Shinjuku…”
“Siapa modelnya…”
“Kirara… yang ada di akun Yoimiya…”
“Mau dong…”
“Gas… tapi bawa lensa wide ya, mau pinjam… saya punya cuma yang standar…”
“Boleh… Guoba ajak jangan?”
“Hm, enaknya gimana ya…”
“Agak maruk ya?”
“Hooh, maruk dia kalau portrait haha…”
“Apa berdua dulu aja…?”
“Boleh lah… ketemu Purnama ya.”
“Siiipppp…”
Memang beberapa hari ini aku dan Zhongli, selaku dua orang yang paling senior dari segi fotografi, berdiskusi soal menanggulangi sikap Guoba yang kalau lagi foto, maruknya bukan main. Gak berhenti dan susah untuk gantian. Atitud saat hunting bareng pun merupakan aspek yang tidak kalah penting selain daripada teknis dan kecakapan pegang kamera. Sebagai senior, kami harus membimbingnya.
Namun ada juga rasa tidak ingin berbagi Kirara sih. Sedang ingin puas-puasin motret. Kalau dengan Zhongli, aku sudah paham satu sama lain. Jeda, gantian, dan pindah tempat, sudah saling memahami, jadinya nyaman.
Oleh sebab itu, diputuskan sore ini yang motret hanya aku dan Zhongli. Modelnya Kirara. Nanti jam tiga aku jemput. Dan memang dia langsung chat via WhatsApp, gesit ternyata cewek satu ini…
Cerah sih. Aku naik motor matic, meluncur mantap tanpa perlu lihat Google Map karena aku hapal sekali daerah ini. Barulah perlu mengeluarkan hp setelah agak masuk gang. Belum sempat aku masuk ke aplikasi peta, sudah ada chat masuk dari Kirara.
“Aku nunggu di sini ya kak.” tulisnya mengiringi sebuah foto gang kosong dengan bangunan tinggi. Entah juga di mana, aku maju saja sampai ada tanda-tanda gang yang ada bangunan panjang dengan tembok warna abu. Dia ada di sana. Walau pakai masker, tapi aku yakin itu dia. Rambut sebahu, pakai kupluk, jaket, serta celana seragam sekolahan Jepang, jauh di atas paha. Tak lupa sepatu Jordan merah.
“Kirara?” sapaku.
“Kak Albedo…?” ujarnya.
“Hm… mana helmnya…?”
“Gak bawa…”
“Eh, aku juga gak bawa…”
“Ya udah, kita ke rumah aku dulu aja…”
Dia langsung naik, aku disuruh lurus saja, sampai pada belokan patah yang cuma muat satu motor. “Belok nih…?” tanyaku. “Iya, bisa kok…”
Bisa sih, tapi ya susah sekali.
“Nanti kalau mau keluar, langsung lurus?”
“Gak bisa, itu buntu. Harus balik arah…”
“Hadeeh…”
“Tunggu ya kak…” dia langsung turun, lalu berjalan menjauh.
Sambil menunggu, susah payah aku mengangkat motor supaya bisa berputar balik. Akhirnya sampai harus ikut ke halaman rumah warga yang pagarnya terbuka, biar ada ruang untuk mundur dulu. Aku menghela nafas. Posisi rumah dia luar biasa susah sekali.
Sejurus kemudian, dia muncul sambil menenteng helm full face. Gimana nih, masa aku yang nyetir pakai half face, sedangkan yang dibonceng pakai helm gede.
“Cie… cie…” terdengar suara begitu dari ujung gang, suara bocah perempuan.
“Berisik lu anjing…!” seru Kirara.
Astaga. Lingkungan yang meriah. Ya sudah, biar aku saja yang pakai helm full facenya. Sempit dan bau pula. “Ini helm siapa…?” tanyaku. “Gak tahu, tadi aku ambil aja dari tembok tetangga.” jawabnya enteng. Duh.
Dia naik, lalu aku gas motor keluar dari gang itu. Canggung juga, sudah lama aku tidak jemput lalu bonceng cewek apalagi baru kenal.
“Kita mau foto di mana kak…?” tanyanya, bercampur suara angin dan deru kendaraan.
“Di sekitaran jalan ABC, deket warung kopi.” jawabku.
“Di mana tuh…?”
“Tar juga tahu.”
Tak pakai lama, sudah langsung tiba. Aku belum melihat tanda-tanda ada Zhongli. Kok tepat sekali, baru buka helm langsung turun hujan. Sial… kami pun langsung masuk ke Kopi Purnama. Memang rencananya bakal ngopi di sini sih, tapi nanti saja kalau sudah beres foto-foto. Ya sudahlah…
Duduk kami berhadap-hadapan. Lalu pesan kopi.
Kutatap dia. “Buka maskernya…” ujarku.
“Malu kak…”
“Nanti juga bakal difoto, malu gimana…”
Dia langsung buka masker. Cantik. Cantik sekali. Kemudian tersipu malu. Kukeluarkan pod, lantas mengepulkan asap aroma mangga.
“Kakak ngevape juga…?” tanyanya, sambil mengeluarkan punya dia. Kayaknya dia masih malu, jadi sendainya aku tidak merokok, tak bakal dia keluarkan.
“Iya…”
Wussss… dia ngebul dengan handal. Dua cangkir kopi pun tiba.
“Umur kamu berapa…?” kusruput kopi hitam.
“15 kak…”
Burrrr… kusemburkan kopinya.
“What…”
“Iya, kelas tiga SMP aku…”
Benar-benar ya, aku kira anak kuliahan dari potongan tubuhnya. Aku jadi merasa agak gimana-gimana.
“Tadi udah ijin sama orang tua ‘kan?”
“Belum, gak ada ayah akunya.”
“Ibu?”
“Udah pisah…”
“Ooh…”
Mendadak deja vu muncul. Rasanya aku pernah mengalami hal seperti ini. Tapi aku tidak harus menduga-duga kapankah kejadian serupa terjadi, karena segera saja aku ingat seorang gadis. Dia bernama Mona, beberapa tahun lalu aku sering main sambil motret dia. Tinggal dengan ayah juga, waktu itu dia masih SMA kendati aku kenal sejak dia SMP, akibat suka ngajak foto orang asing di jalanan. Sama, dia juga tinggal dengan ayahnya, juga di gang yang tidak terlalu rapi.
Mona, malah oleh ayahnya disuruh-suruh kalau ada yang ngajak foto, yang penting dibayar. Supaya bisa diminta untuk bayar kontrakan dan listrik. Makanya, kalau aku beri dia honor foto, suka aku pisahkan, yang untuk disetor ke ayahnya dan yang untuk dia jajan. Sekarang Mona sudah jadi selebgram, sombong betul pokoknya. Padahal dulu sebelum terkenal, seminggu sekali pasti portrait denganku.
Sama-sama gadis remaja. Tinggal di gang bersama ayah dan adik. Cantik iya. Merokok pula. Cuma kalau si Mona, sekalian juga minum alkohol. Entahlah dengan Kirara, mudah-mudahan jangan…
“Ngerokok dari kapan gitu dik?”
“kelas lima SD kak…”
“Oalah… ayahmu tahu?”
“Tahu… ‘kan suka minta sama ayah kalau di rumah, Dji Sam Soe kretek…”
“Aduh…”
“Malah di rumah aku sama ayah suka minum anggur merah bareng… kemarin juga aku bawa Soju ke rumah…”
Kisah macam apa ini. Mendengarnya aku kaget, prihatin, tapi juga ada rasa ingin mengenalnya lebih lanjut. Yang jelas, sosok aslinya beda sekali dengan gambaran yang didapat dari hanya sekadar melihat-lihat di Instagram. Agak beda, kalau Mona di Instagramnya juga menampakkan sifat badung, kalau Kirara ya seperti remaja kebanyakan. Cuma dia wibu, dan ke-Jepang-Jepangan walau ya agak SNI.
Hujan masih deras. Tentu saja Zhongli akan semakin ngaret. Kami terus mengobrol. Menyenangkan. Dia cerita pernah diusir dari rumah karena gak pulang beberapa hari. Lalu juga didekati oleh pemuda cabul di event wibu, diajak check in ke hotel. Untung dia menolak. Jadi ada rasa ingin melindungi sih, tapi…
“Kakak gak ke event lagi…”
“Enggak…”
“Kenapa…?”
Aku, belum bisa menjelaskan alasannya. Aku tidak mau cerita bahwa aku punya rasa bersalah yang mendalam karena teman dekatku sudah menyakiti cewek remaja yang schizophrenia. Selain karena bisa panjang sekali kalau diceritakan, aku tidak mau disangka satu golongan, apalagi ini baru pertemuan pertama. Sedangkan, mulai timbul pikiran aku ingin memotretnya secara reguler. Selain karena tentu dia cantik, ya hitung-hitung ngasih dia uang jajan.
Kutatap dia lekat-lekat. Walau masih remaja, terlihat sekali kalau dia tidak terlalu baik-baik saja. Ya… tentu saja. Aku jarang juga menemukan cewek SMP yang merokok dan mabok.
“Coba perlihatkan tanganmu…”
“Gimana kak?” dia julurkan kedua tangannya ke depan.
“Dibalik…”
Terlihat kini bagian dalam kedua lengannya. Bersih. Tidak ada bekas sayatan silet. Aku merasa sangat lega.
“Udah…” ujarku.
“Haaah…” Dia bingung.
“Udah reda tuh, yuk ah…” aku bangkit mau bayar ke kasir.
“Gak nunggu temennya kak?” tanya dia.
“Nanti disuruh nyusul aja…” jawabku.
Dia pun ikut bangkit. Pakai jaket. Dan selalu masker.
Tadinya misal tidak hujan, aku mau foto dulu di roof top gedung Pasar Baru. Sama sekali tidak bagus sih kalau sudut pengambilannya ke arah bawah. Tapi kalau cerah, lumayanlah latar belakangnya langit biru yang terhampar luas. Karena habis hujan, ya abu-abu semua, tidak ada gunanya susah payah naik gedung tinggi.
Kami berjalan ke arah Kepatihan. Tidak jauh dari Purnama, namun cukup untuk bikin Kirara beberapa kali dilirik oleh tukang parkir atau penjual gorengan. Ya… jangankan di lokasi yang kering wanita begini, di mall saja dia bisa cukup mencolok sih dengan rok pendek begini.
“Kita coba di sini ya…” kukeluarkan kamera Fuji X-E3 dan lensa 35mm alias 53mm. Tone warnanya bagus sekali, distorsi di wajah juga nyaris tidak ada. Tapi ya terlalu dekat untukku, juga terlalu bokeh. Kalau stop down, sudah lumayan gelap di sini. Aneh juga sih, masih sore sudah ISO 3200, macam ada kebohongan pada satuan ukur ISO dia haha.
Aku tidak mengarahkan apapun apalagi ekspresi wajah. Namun dia seolah sudah paham, kalau aku suka ekspresi yang dingin dan kalem. Jepret, jepret. Kemudian hujan lagi, segera kami mencari tempat yang teduh. Duduk lesehan, kemudian merokok bersama. Dia minta, bukan aku yang nawarin.
“Gimana sekolah?”
“Iya, lagi mau cari-cari SMA kak…”
Tak lama, ada Zhongli menelpon.
“Pada di mana nih?” tanya dia.
“Shinjuku… ke sini aja.”
“Oke.”
Shinjuku itu nama yang kami sematkan untuk spot foto ini. Bukan karena mirip karena tentu saja tidak. Cuma karena di sini ada zebra cross sih. Untuk diketahui, zebra cross yang bentuknya normal tuh langka sekali di Bandung. Biasanya pola dia bukan garis-garis tapi kayak ular tangga, sudah pada luntur, pokoknya jelek sekali kalau buat di foto.
Muncul juga Zhongli. Dari jauh saja terlihat dia berakslereasi, melihat model remaja yang cantik dan seksi pastinya. Kukenalkan mereka, dan langsung kupinjam lensa 16-55mm dia.
“Tadi ke sini sama siapa?” tanya Zhongli basa-basi, padahal dia sudah tahu.
“Dijemput sama kak Yoimiya..” jawab Kirara.
“Namaku Albedo bukan Yoimiya, duh…”
Lanjutlah kami menjelajah Shinjuku. Setiap ada spot agak lumayan, berhenti dulu lalu foto. Seperti biasa, aku lupa kalau pakai lensa yang bisa zoom, jadinya pakai di 16mm (24mm) terus-terusan. Kami foto bergantian. Enak memang kalau sama Zhongli, ibarat serangan di sepakbola, saling mengoper dan buka ruangnya udah ada.
Kemudian gerimis agak lumayan, lagi. Kami sambil jalan ke arah Purnama. Supaya kalau-kalau hujan lagi, langsung masuk saja. Dan benar, hujan deras. Sekitar petang jam enam, kami semua masuk.
Kuceritakan pada Zhongli bahwa Kirara pernah mau diajak mesum oleh wibu cabul. Tapi aku tidak ceritakan dia suka mabok dan sebagainya. Tujuanku, ‘kan si Zhongli masih suka ke event, supaya kalau ada apa-apa, Kirara tahu bisa minta pertolongan dengan cepat ke siapa. Walau tidak terlihat kuat, tapi Zhongli badannya besar, barangkali bisa bikin wibu cabul gentar.
“Betul itu, kalau ada yang macem-macem atau minta uang buat foto, lapor kita aja…” ujar Zhongli.
“Hm… hm..” gumamku.
“Iya kak…” jawab Kirara, mulai ngebul lagi.
Katanya Kirara harus ke rumah saudaranya dulu, keponakan dia ulang tahun. Jadi dia tidak pulang bersamaku. Maka kami pesankan ojol. Ya sudah, setelah diberi uang, dia pamit. Tersisa aku dan Zhongli, memang kami masih ingin nongkrong.
“Guoba kayaknya marah gak diajak…” ujarku.
“Masa sih…”
“Ya, biar sajalah.”
“Kirara ini harus diamankan kang. Bibit unggul untuk foto-foto.”
“Iya sih.”
Maunya juga begitu. Walau sepertinya bakal banyak sekali kerumitannya. Sekali lagi, aku teringat Mona.
Dan ketika mau pulang, kulihat di motor masih ada helm full face “punya” Kirara. Aduh, dia meninggalkannya. Ribet sekali harus aku bawa-bawa. Tapi bagus juga, jadi ada alasan segera ngajak main dan foto lagi…
“Kak, foto-fotonya udah dikirim?” chat Kirara.
“Aku sih udah dari hari itu juga, ada di Drive. Zhongli yang belum…”
“Mintain sekalian ya?”
“Ok.”
Ya begitulah, hari-hari esoknya aku rutin chat dengan Kirara. Bahasan masih sebatas foto. Ganjel banget ini Zhongli, bagaimana model mau betah kalau upload foto saja sampai berhari-hari. Aku sangat berpengalaman mengolah file RAW. Kalau tidak diapa-apakan, satu foto paling juga dua menit. Jangan sampai hal-hal kecil, bikin model kapok difoto lagi berikutnya… inilah mengapa aku tidak bisa memercayakan akun Yoimiya.
“Ini helm mau gimana by the way…?” tanyaku.
“Ntar aja kak kalau kita jalan lagi…”
“Ya udah…”
“Kapan mau ngajak foto lagi kak?”
“Hm, aku belum beli kamera gantinya. Yang kemarin baru dijual…”
Memang iya. Aku tidak begitu sreg pakai X-E3. Sepertinya aku membayar terlalu mahal untuk kamera minim fitur. Masalah warnanya cantik dll, masa bodoh juga toh fotoku akhirnya monokrom. Sekitar tujuh juta untuk body, bisa aku belikan Lumix GX85 dan lensa fix sebiji. Fitur lebih kaya, motret juga lebih enak.
“Jujurly kak, aku lagi butuh uang…”
Memangnya aku ini ATM ya. Tapi baguslah, aku lebih suka dikenal sebagai sosok dermawan daripada orang pelit. Namun gak ada kamera, mau apa juga.
“Ya udah, kita bikin konten pakai iPhone. Tar dikasih uang jajan…”
“Hari ini kak?”
“Iya…”
“Aku siap-siap dulu ya.”
Kayaknya sih cerah. Kayaknya. Aku siap-siap. Rasanya aneh sekali keluar rumah tanpa bawa kamera. Aku memang belum beli apa pun, nanti saja aku beli Ricoh GR II kalau kebetulan ada di marketplace. Kalau gak ada, ya Lumix sajalah.
Bagai kancil, sudah tiba saja aku di tempat kemarin. “Aku di lokasi…”
Tak lama dia muncul, rambutnya diikat, pakai jaket baseball, celana panjang putih. Wajahnya agak sedikit beda. Tapi bagus sekali, dia tidak lagi pakai masker. Berjalan pelan dari kejauhan sambil tersenyum. “Stop!” seruku, lalu mengeluarkan hp. “Kenapa kak?”
“Ulang lagi jalannya… mau dibikin video…” ujarku.
Dia menurut. Take one, dapet.
Baru juga keluar gang, langsung hujan deras. Kami mencari minimarket terdekat. Berteduh. “Hhhhhh…” keluhku.
Minim sekali bangku tersedia. Kami berdiri sambil melihat derasnya hujan. Dia tampak termenung, tapi kalau kutatap, mendadak senyum.
“Tadi makan dulu gak?” tanyaku.
“Belum sih kak…”
“Hayu, jajan dulu…” ajakku. Sekalian untuk video.
Dia ngambil roti, onigiri, sosis gede dan susu. Memang belum makan sepertinya. Setelah kubayar di kasir, kami ke luar lagi.
“Aku makan ya kak…”
“Iya.”
“Aduh…”
Terlihat tangannya penuh saos. Dia membuka sosis dengan cara yang salah. “Lucu juga nih…” langsung aku rekam lagi. Cara makannya kayak anak kecil. Tapi tetap cantik.
“Dik, rasanya agak beda dari kemarin…”
“Apanya kak?”
“Wajah dan rambutnya…”
“Kemarin ‘kan pakai wig, terus make upnya tebel…”
“Bagusan gini…”
“Hihi…”
Tentu pula setelah makan harus merokok. Dia minta sebatang. Berada si sana sekitar setengah jam kami sebelum lumayan reda. Lanjut lagi. Baru juga bermotor sekitar dua kilo, hujan lagi, berteduh lagi. “Arrrggggghhhh…” keluhku lagi. Sebetulnya aku bawa jas hujan, dua. Tapi kami sama-sama malas pakai, jadilah ke pinggir lagi guna berteduh.
Kali ini berteduh di depan warteg. Tapi tidak lama, cuma sekitar sepuluh menit. Lanjut lagi, kali ini agak jauh dulu barulah terkena lagi hujan untuk ketiga kalinya di Buah Batu. Cuma lima menit. Jalan lagi, kena lagi kali ini terlalu deras dan nyata. Kami berteduh agak lama di sebuah ruko kosong. Ini sih habis waktu untuk berteduh. Satu jam lebih.
Akhirnya diputuskan untuk pakai jas hujan daripada kena lagi kena lagi. Susah pakainya karena bentuknya jaket dan celana panjang, apalagi sepatu dia besar sekali macam orang di tempat fitness. Secara ajaib, setelah pakai segala macam, langitnya berangsung cerah dan biru. “Grrrrrr….”
Kuhentikan motor di jembatan dekat stasiun. Kalau boleh klaim, akulah pemilik jembatan ini. Soalnya pengikut-pengikutku menamai jembatan ini pakai namaku, saking akulah yang menemukan spot serta angle foto terbaik di sini.
“Uh susah buka jasnya… aaaahhh…” dia komplain.
“Ya, tetap harus dibuka ‘kan…”
Akhirnya berhasil.
“Yah, make up aku kena kak…”
“Gimana dong?”
“Cari toilet dulu ya, pengen pipis juga…”
“Ya udah.”
Kami masuk ke dalam stasiun, seharusnya ada toilet. Jalan agak jauh sepanjang terowongan, tidak ada tanda-tanda toilet. Kulihat seorang petugas keamanan, langsung aku tanya. Ditunjukkannya ke arah sana.
Kok malah mengarah ke luar ya, lewat sisi kumuh samping stasiun. Ternyata kami diarahkan ke WC umum yang kumuh.
“Gimana dik?”
“Gak apa-apa kak…”
Ada paman penjaga di depan kencleng. Gelap dan tampaknya jorok sekali. Aku gak tega sih, cewek harus ke sini. Kayaknya pintunya juga tidak rapat amat, tembok juga mungkin bisa intip sana sini. Makanya selagi Kirara di dalam, aku siaga di samping paman kencleng, kalau-kalau ada yang masuk, soalnya itu pintunya sekali dorong juga copot semua kunciannya, cuma pakai paku.
Keluar juga dia.
“Udah kak…”
“Ok…”
Kubayar goceng ke paman kencleng. Kami lanjut jalan kaki ke jembatan lagi. Jalanan masih basah sehingga mengilat, genangan memantulkan bayangan langit biru beserta awan-awan pengiring sore ini. Tak lupa juga, kuambil beberapa adegan video. Rasanya seperti hari baru saja dimulai, macam di anime-anime saja rasanya. Berjalan dengan ceria, bersama gadis remaja. Aku jadi ketularan muda jadinya.
“Kita ambil beberapa adegan dan foto di atas jembatan dik…”
“Ok kak…”
Ya, memotret pakai iPhone memang mudah sekali, dan auto cantik. Aku sudah puluhan kali mengambil foto dari sudut ini, makanya hapal betul kalau di sini harus pakai ultra wide. Dia tersenyum sambil bersandar pada pagar, latar belakangnya luas penuh gedung. Hari ini nuansa foto dan videonya ceria sekali, padahal biasanya aku melarang model untuk tersenyum.
“Dah yuk…” ajakku.
“Lanjut ke mana kak?”
“Ambil satu dua adegan di Baltos…”
“Ok…”
Kami lanjut ke Baltos. Parkirnya agak nanjak dulu, licin pula. Ini mudah sih, tapi memang agak menyeramkan, makanya pas nanjak terasa sekali Kirara jadi agak pegangan dan mendekat.
Foto-foto dan video sejenak, dengan latar belakang jalal fly over sehabis hujan. Aku kasih dia T-shirt bergambar Tomie. Waktu itu aku beli untuk dipakai kalau ke event wibu, tapi keburu males.
“Ini buat aku kak?”
“Iya. Sekarang pakai dulu, untuk foto…”
“Ok.”
Sekarang jam lima sore. “Dik, ke BEC sebentar ya…” ujarku. “Ada apa kak?” dia tanya. “Aku butuh hp kecil, yang ini kegedean… katanya kenalanku punya…”
“iPhone yang ini masa kegedean kak?”
“Iya, aku sukanya yang kecil. Mau beli SE 3. Kalau ada tapi.”
“Terus nanti yang ini, dikemanain?”
“Dijual, atau dikasih ke orang… gak tahu…”
“Jual ke aku aja… suka, kameranya bagus… berapa kak?”
“Hm… berapa ya…”
Bukan aku tidak tahu pasaran iPhone 13 itu berapa. Tapi aku tidak mau jual ke anak SMP, dia pasti akan minta uang ke ayahnya. Dan aku agak susah membayangkan ayahnya akan memberi. Jadi, ya sebaiknya aku alihkan pembicaraan.
“Serius ih, nanti aku mau minta ke ayah, buat hadiah ulang tahun!”
tuh ‘kan
“Emang kapan ulang tahun?”
“Tanggal 10 bulan depan…”
“Astaga, aku tanggal 28nya.”
“Waaah.”
Tiba di BEC. Sial si Itto, toko hp langgananku. Bilangnya SE 3 ternyata SE 2, gak jadilah. Cuma sebentar saja, agak petang kita lanjut balik parkiran.
“Dik, boleh pulang jam berapa…?” tanyaku.
“Gak pulang juga gak apa-apa…”
“Jangan dong.”
“Hehe.”
“Kita nongkrong bentar, jam delapan kamu udah di rumah pokoknya.”
“Oke kak.”
Aku bawa dia ke Sudirman Street. Karena bukan week end, tempatnya jadi kosong. Kupesan sate taican yang 30 tusuk, lalu kuajak dia ke toko khusus minuman dingin, tepat di samping.
“Pilih aja, mau apa…” ujarku.
Ya, di sana ada cola, susu, yoghurt, bir, vodka, segalanya. Dia memilih bir kaleng ukuran sedang, sudah kuduga. “Ini kak…” ujarnya.
“Ya udah sekalian ambil dua.” aku berdiri di kasir untuk membayar. Kami naik ke lantai dua food court, nanti satenya diantar. Pilih meja agak tengah, sepi betul suasana petang ini. Hanya dua cewek yang pernah kuajak ke sini, yaitu Mona, kembaran dia yang beda dimensi, dan ya Kirara.
Cessshhhhhh. Suara kaleng bir dibuka. Kirara menyeruput dengan luwes…
“Aaaahhh, enakkk…” serunya.
“Haha.” aku masih tidak percaya kalau dia anak SMP.
“Kak, mau minta rokok…” ujarnya.
“Nih…”
“Aku tuh lagi pusing kak…”
“Pusing kenapa?”
“Urusan sekolah…”
“Oh, baguslah.”
Sate pun tiba. Terutama sate kulitnya sangat menggoda, terlihat garing sekali. “Nah, sambil makan ngobrolnya…” kusuruh dia.
“Aku kena razia terus di sekolah…”
“Razia sepatu?”
“Bukan… razia hp…”
“Kenapa gitu…?”
“Suka dicek isi galerinya…”
“Terus, terus?”
“Aku ‘kan kalau lagi gabut suka selfie nude di kaca…”
“Wah…”
“Mau lihat?”
“Enggak.”
Kami lahap tusuk demi tusuk. Pedas juga sih. Bir cocok sekali. Juga cewek anime di depan mata.
“Ribet ya, anak SMP…”
“Maklum kak, sekolah buangan…”
“Hm…”
“Temen aku aja udah empat orang drop out…”
“Astaga. Tawuran?”
“Bukan sih. Yang dua hamil, yang dua lagi ketahuan lagi nyepong di WC sekolah.”
Mendengarnya aku merasa pusing. Bahkan dalam film Holywood paling vulgar sekalipun, aku tidak pernah lihat yang seperti itu. Anak SMP. 15 tahun.
“Kamu, enggak ikut-ikutan ‘kan?”
“Enggak sih.”
“Sih?”
Dia melamun. Tentu tidak mabuk, selaku suka minum anggur merah di rumah bersama ayah, bir tidak akan membuatnya kenapa-kenapa. Tapi tingkahnya jadi lucu. Tiba-tiba ngajak pegangan tangan. Lalu senyum sendiri. Kemudian tangannya dibentuk jadi melingkar di depan muka, seperti sedang…
Suasana tenang dan remang. Di hadapanku ada cewek anime sedang melamun tapi sambil mengunyah sate, kadang kepedesan sendiri. Mulai muncul pikiran aneh. Rasa ingin menjaga dan melindunginya. Jelas, dia tidak hidup di lingkungan yang baik-baik saja. Rumahnya, sekolahnya, tampak tidak wajar. Dan juga tempat mainnya yakni event wibu, tidak selucu kelihatannya. Dia baru 15 tahun, masih ada tahun-tahun ke depannya, entah untuk dia menjadi semakin baik, atau semakin liar…
“Eh kak, kenapa gak mau lagi ke event Jejepangan?”
“Ingin tahu banget?”
“Iya…”
Kuceritakanlah kisah Layla dan Gorou. Bahwa aku merasa bersalah. Dia mendengarkan dengan seksama, entah mengerti atau tidak.
“Serem banget ya…”
“Kamu jangan coba silet-silet ya…”
“Ih enggak bakal, ngebayanginnya aja ngilu banget…”
“Hm…”
“Kakak umurnya berapa…?”
“Menurutmu berapa…?”
“23-25?”
Baguslah, haha. Kuambil uang dari saku, kuberi dia 200 ribu seperti biasa. “Bukan buat beli bir ya…” ujarku. Dia tersenyum. “Makasih kak. Ini untuk pergi renang sama temen-temen.” jawabnya. Bukan main jawaban yang terdengar sangat baik untuk ukuran dia.
“Ya udah hayu pulang, jangan kemaleman…”
“Iya kak…”
Tenang sekali langit malam ini. Setelah sepanjang siang diguyur hujan tiada henti, akhirnya bisa juga melihat, dan merasakan sesuatu yang indah. Karena setelah belasan kali turun naik motor ini, akhirnya dia berpegangan sambil memeluk.
Kelelawar beterbangan melintasi langit malam. Kami berhenti di depan gang.
“Makasih ya kak…”
“Sama-sama.”
Aku pulang, menuju rumah. Hari yang terasa sangat panjang. Kukeluarkan hp, mau ngecek video-video hari ini. Sudah ada saja chat dari Kirara.
“Makasih banyak ya kak buat segalanya…” ujarnya.
Hari-hari berikutnya, aku tidak ada kegiatan bikin konten apa pun. Aku fokus menjual lensa-lensa Fujifilm karena sudah tidak punya bodi kameranya. Dengan Kirara sudah dua hari tidak chat sih. Kulihat dia kemarin ke event Jejepangan, semoga aman-aman saja.
“Kayaknya aku mau coba Lumix GX85 ah, cuma empat jutaan…” aku scroll Tokopedia. Pilihan yang aman, karena ini kamera paling umum di komunitas MFT. Seandainya tidak cocok pun, mudah aku jual lagi. Akhirnya menemukan satu yang kondisi dan harganya pas, aku check out sekalian dengan lensa.
Yang terpikirkan olehku adalah, nanti kameranya datang, akan aku ajak lagi petualangan si Kirara. Kemarin rasanya ada yang kurang, karena tidak memotret pakai kamera betulan.
Bosan juga sih menunggu kamera, dikirimnya dari Jambi. Mungkin dua tiga hari baru tiba.
Sengaja aku tidak chat Kirara dua hari ini. Biar jangan terlalu terlihat antusias saja. Ya, cukup kayaknya dua hari gak chat. Mau aku sekalian booking untuk foto pekan depan ngetes kamera Lumix.
“Lagi apa dik? kamera aku lagi OTW, ntar debut kita foto-foto ya.” kirimku.
Ceklis satu. Biasanya kalau di luar dia antara tak punya kuota atau baterainya habis. Aku tahu karena pernah menyaksikan keduanya. Ide bagus kalau dia mau ganti iPhone 13 sebetulnya.
Sampai malam tak ada balasan. Barulah sekitar jam satu, muncul beberapa pesan langsung.
“Kak.”
“Aku lagi banyak masalah.”
“Maaf ya.”
“Sekarang tangan aku ada barcode.”
“Tolong jangan berprasangka buruk.”
Langsung aku bangkit dari tempat tidur.
“Barcode? apa maksudnya?”
Kirara lalu mengirim video pendek. Lengan kirinya penuh garis-garis, masih segar dan ada darah menetes. Dari pergelangan sampai hampir ketiak. Garis besar kecil panjang pendek. Dia habis menyayat lengannya sendiri.
“Astaga dik… kenapa?!”
“Banyak masalah kak… hehe.”
Aku langsung teringat Layla. Aku langsung merasa berdosa. Apakah dia melakukan ini karena terinspirasi kisah yang aku ceritakan…
Esoknya setelah agak harus dipaksa, dia mau kuajak main ke luar. Aku berencana mengajaknya ke bukit, menikmati udara segar. Tanpa kamera, karena belum ada. Aku ingin membuat pikirannya tenang. Walau sebetulnya aku tidak tahu juga, healing ini untuknya atau untukku.
“Wah, bagus ya pemandangannyaaa…” dia berseru dari atas motor. Boleh-boleh saja, toh di sini sepi.
“Iya dong…”
“Baru pertama kali aku ke sini…”
“Masa sih…”
Rutenya lumayan menantang. Kalau orang normal, biasanya cukup sampai tempat nongkrong yang di bawah-bawah. Tapi aku maunya sampai Bukit Moko. Biar sekalian, sama-sama capek, jangan nanggung.
Kami tiba. Belum ada jam lima sore. Sempurna untuk melihat matahari terbenam. Bayar tiket dulu untuk dua orang, dapat menu mie instant plus kopi. Ya… yang dibeli di sini ‘kan suasananya, bukan makanannya. Masih banyak pondokan kecil kosong, dia pilih salah satu. Banyak juga pasangan remaja lainnya, yang niscaya mereka bakal menempati saung-saung itu sampai malam biar enak pacarannya. Aku sih, ingin suasana yang tenang saja.
Duduk berhadapan. Dia masih pakai masker.
“Kenapa pakai masker?”
“Malu kak.”
“Malu kenapa?”
“Udah bikin kakak kecewa.”
Kubakar sebatang rokok.
“Iya, aku kecewa, sedikit. Aku gagal ngajak kamu jadi lebih baik…”
“Iya kak…”
“Walau gak lebih baik, tapi kamu ‘kan suka mabok… ya udah itu aja, kenapa harus diborong semua…”
“Gak ada temen buat cerita kak…”
Kini aku yang ingin merenung. Tadinya aku masih punya sedikit keinginan untuk mendampingi dan menjaganya. Walau entah nanti akhirnya akan lanjut sampai mana. Namun sepertinya dia tidak butuh aku. Kalau pun butuh, tidak banyak yang bisa aku lakukan. Dia sangat cantik, dan kalau lagi sadar, lucu bukan main. Akan tetapi tampaknya aku akan banyak mengalami kesulitan dan beban mental.
Aku tidak siap untuk itu. Aku menyerah.
“Terus gimana lanjutannya kak?” tanya Keqing penasaran.
“Bentar, beli minum dulu, haus… hehe.” aku masuk ke Circle K. Braga sore ini begitu sepi. Akhirnya aku pergi memotret jalanan sebagai debut kamera GX85. Kuambil dua botol kopi kalengan, sekalian buat Keqing.
“Loh aku dibeliin kopi…?” ujarnya ketika aku kasih.
“Iya, masa aku doang…”
“Kakak lupa ya, aku barista… seharian minum kopi.”
“Astaga, iya. Memang ya, lagi banyak pikiran…”
Tapi tetap dia buka kalengnya, dan disruput. Gadis yang sedang denganku namanya Keqing, dia barista di salah satu cafe di sini. Aku kenalan bulan lalu. Kebetulan kalau lagi jam istirahat, dia suka nongkrong di Circle K ini. Jadilah bertemu. Tadi dia tanya, gak sama pacar. “Pacar yang mana…?” aku bingung.
“Itu dari minggu lalu, story isinya jalan-jalan sama cewek ‘kan…”
“Oooh, udah enggak…”
Kuceritakan saja, aku sudah bilang bahwa aku gak akan lagi jalan dan main sama dia. Sepertinya dia marah besar. Dia juga bikin drama, seolah-olah aku sudah jahat. Pusing pokoknya. Sudah gitu nyuruh orang buat chat aneh-aneh, sepertinya bocah lelaki juga, yang mana ketika aku ajak ketemu langsung, ciut segera.
Dia juga mengancam mau ngadu ke fotografer-fotografer wibu lainnya. Ya, silakan saja. Aku tidak mau mengikuti permainan anak-anak. Lagipula, mereka bisa apa sih.
“Jadi ribet ya kak…”
“Ho’oh. Mau dilawan juga anak kecil, cewek pula…”
“Tapi masih sayang ‘kan?”
“Gak lah… cuma masih kepikiran aja, takutnya dia marah terus silet-silet tangan lagi… aku gak tega bayanginnya.”
Malah kami berdua saling lihat-lihatan.
“Nanti juga berhenti kok kak… suatu saat dia bakal sadar untuk ga nyakitin diri sendiri…”
“Mudah-mudahan…”
Keqing melihat jam di tangannya. Dia juga punya bekas sayatan, tapi sudah lama kering, hanya saja bekasnya masih tersisa. Peninggalan jaman SMA katanya.
“Udah hampir jam empat kak, aku harus balik kerja.” ujarnya.
“Oke…”
“Nanti chat aja ya…”
“Siap..”
“Daaah.”
Dia berlalu. Kini aku sendiri, lagi.
Kukeluarkan GX85 dan lensa 17mm. Berjalan ke arah Braga, sendirian. Kembali ke jalanan. Rumahku.
