Impian saya dari dulu, pengen punya Leica. Tapi kalau Leica M, malas sekali harus manual fokus. Kalau bisa AF, ngapain MF, kecuali situasi darurat kayak mau zone focus atau cahaya terlalu gelap haha. Leica autofokus yang murah cuma DLux, dan sangat tidak bijak karena itu adalah Lumix LX yang diganti logonya serta dilipat gandakan harganya. Makanya ketika ada yang namanya Leica Q, wah, itu target saya.
Kendati demikian, 40 juta itu rasanya banyak sekali. Bukan berarti harganya kemahalan toh memang layak dan nilai jualnya terjaga, tapi memang ya uangnya gak ada haha.
Sampai suatu hari saya lihat di marketplace Kota Bandung, ada yang jual Q, batangan kamera sama charger saja, 28 juta. Sedikit lecet, tapi 28 juta. Wah kalau segitu sih saya usahakan. Akhirnya setelah nego dikit, dapat di 25 juta. Bertemulah saya dengan penjualnya. Kaget juga saya di Bandung ada yang punya Leica, biasanya 1200D atau XT100 hahah.

Keren sih, warnanya gunmetal gitu. Luar biasa berat dan jemari pegel karena di depan flat gak ada grip. Oh iya, di hari saya beli Q itu, kemarinnya saya baru beli X100V. Dengan melihat saya beli X100V hamper 21 juta, maka ini Leica Q 25 juta rasanya seperti obral. Tapi bikin saya bingung, pakai yang mana. Makanya foto di atas, diambil pakai X100V. Kalau yang pakai Leica, hasilnya kayak di bawah.

Wah… ini pertama kalinya saya punya kamera full frame. Serius, soalnya gak butuh juga full frame hehe. 28mm F/1.7, bener-bener tajam, warnanya cantik sekali tanpa filter atau film simulasi apa-apa. AF sangat cepat. Layar dan EVF sangat tinggi speknya, bahkan jika dibandingkan dengan kamera sekarang, masih berani ngadu. RAWnya juga DNG, kesukaan saya… makanya walau 24mp tetap ringan saat diolah.
Untuk beberapa saat, saya pakai Q buat hunting, hingga akhirnya X100V saya jual. Fuji saya bisa beli kapan saja, mending menikmati Leica. Intinya saya cocok pakai ini walau rada pegal. Tapi ada godaan, secara teknis sudah cocok, tapi secara estetik nih… saya kagok sekali pakai kamera warna silver di jalanan, mencolok sekali, apalagi di Braga, kayaknya cuma saya yang nenteng Leica.
Tak lama kemudian, saya melihat seller langganan saya, Mas Cakim, jual yang warna hitam, fullset banyak bonus, dan kondisi like new. Hm… sudah kagok Leica, sekalian saja yang mulus biar ada nilai koleksi. Saya tahu dia bisa tukar tambah, akhirnya saya chat. Dan… ya saya nambah 13 juta, jadi Leica Q hitam yang dimiliki harganya 38 juta. Tetap saja akhirnya keluar hamper 40 juta, tapi rasanya puas banget.

Di sini masalahnya baru muncul. Karena terlalu mulus, saya kagok sekali pakainya takut lecet hahaha. Mau pasang flash pun gak tega, nanti lecet hot shoenya. Lalu juga walau pakai Leica, foto saya tetap kayak di Bandung, tidak berubah jadi kayak di Tokto atau London (ya iyalah) hahaha…
Malah akhirnya kebanyakan saya simpan di dry cabinet, saya beli GR III aja buat sehari-hari. Keputusan yang sangat saya sesali, bukan nyesel beli Q, tapi nyesel beli GR III. Pada artikel lain saya bahas, mendingan beli GR II saja.
Karena saat itu tiap hari hujan, gak tega juga saya pakai Q buat nyetrit di lokasi yang tak bagus ini. Saya pakai GR III tiap hari, Q Cuma buat dipandangi saja di kamar.
Lalu suatu hari saya iseng, pasang di Tokopedia, 48 juta. Cuma buat flexing. Eh… malemnya ada yg check out gak pakai nawar. Astaga. Kalau saya tolak, reputasi toko saya turun, jadilah terpaksa saya kirim… dan saya dapat untung 10 juta. Itulah dia, bedanya Leica dengan brand lain, asal kondisi bagus, makin disimpan malah makin naik harganya. Sedih juga sih mesti dilepas.
Aaaaahhhh… kapan lagi ya bisa beli Q. Pengen sih Q2, biar makin future proof, walau Q biasa pun juga tetap sangat mumpuni dan enak.

