Fujifilm X100V~

Sampai hari ini saya rasa adalah “kamera street” terbaik yang eksis. Serius, memang sebagus itu. Namun sayang, ada satu masalah…

Sebetulnya saya sulit menjelaskan, kenapa ada yang disebut “kamera street” ada juga yang tidak, padahal semua kamera pun bisa dipakai untuk street. Jika alasannya ukuran dan bobot, kamera ini berat sekali… serasa bawa Ricoh GR dua biji. Kalau faktor OVF, saya malah suka “tersesat” kalau pakai viewfinder yang bolong doang begitu… soalnya sudut pandangnya tidak 35mm sedangkan lensanya ‘kan 35mm, sudah gitu ada frame line yang gerak-gerak dalam nuansa penuh distorsi paralax. Demikian menurut saya, kamera street itu adalah Ricoh GR dan semacamnya, harus ringan dan bikin cekatan di jalanan. Makanya saya bingung juga kenapa Leica identik dengan street, padahal dari jaman film, sudah ada kok yang namanya Ricoh GR atau Contax.

Namun tidak semua “kamera street” enak dipakai non-street. X100V ini terlalu overkill untuk di jalanan. Kalau bisa, gunakanlah untuk kegiatan lain. Soalnya kamera ini terlalu bagus kalau cuma dipakai memotret yang normal-normal saja. Namun ya karena memang sudah identiknya begitu. Inget street ya inget X100, dan Leica. 

perbandingan ukuran dengan Nikon Coolpix A

Apapun itu, memang kamera ini bagus sekali. Kalau dibikin tier list untuk “kamera street”, X100V pasti peringkat pertama. Kalau uangnya ada, beli. Sesimpel itu. Levelnya jauh di atas kamera lain, ya karena harganya juga di atas kamera street lain. Saingan terdekatnya, Ricoh GR III dulu barunya sekitar 15 juta, kamera ini 22 juta. Itu dulu…

Menyoal harga, kamera tidak seperti smartphone… misalnya, iPhone 15 ketika diluncurkan, harganya sama dengan iPhone 14 pas lahir tahun sebelumnya. Juga Galaxy S23 dll. Kalau kamera, penerus dari seri sebelumnya dipastikan harganya naik. Namun si X100V ini agak frontal, karena sebelumnya X100F hanya 17 juta. Ini yang membahas harus ahli ekonomi, jangan saya. Tapi dugaan awam sih ya karena kuantitas penjualan kamera jelas tidak sebanyak smartphone, ada cost riset, produksi, dll yang tidak berbanding dengan jumlah unit dibuat.

Dahulu pas pertama diluncurkan, saya beli. Sesuai dugaan, ya memang bagus sekali. Cepat, warna indah, dan akhirnya layar bisa ditekuk dan sensitif sentuhan. Sudah tidak perlu ada review lagi, ini kamera sangat bagus dan susah dicari tandingannya. Gara-gara kamera ini pula saya terpaksa upgrade Macbook karena RAWnya berat sekali. Terpaksa 2020 lalu saya beli Macbook M1 dengan harapan tidak lelet. Eh… sudah pakai M1 tetap berat, saya gak tahu harus gimana membuka RAW Fuji ini… saya terbiasa pakai format DNG di Ricoh atau Leica.

Dan karena Leica pula lah, saya jadinya tidak memiliki X100V untuk waktu lama. Ceritanya sehabis beli X100V (dan Macbook M1), saya beli Leica Q. Haha. Harap maklum, waktu itu masih jaman kejayaan. Tentu saya lebih pilih pakai Leica Q karena pengalaman yang jarang, kalau Fuji saya sering pakai. Pada prosesnya malah Leica Q silver itu saya tukar tambah ke warna hitam. Fujinya saya jual… gak sedih-sedih amat toh kalau kangen, tinggal beli lagi, banyak di pasaran… (saat itu)

foto Leica Q diambil pakai X100V

Eh.. memangnya apa sih masalah yang dibahas di awal…?

Baiklah. Masalahnya adalah, seberapa pun kamu ingin, sekarang kamera ini langka, dan kalau pun ada, harganya gak masuk akal. Ada yang jual bekas sampai 30 juta, gila. Apa sebab di balik itu? panjang kalau dijelaskan, bisa dibaca di sini.

Singkatnya, kamera jenis ini memang segmented. Di toko stoknya pasti tidak sebanyak mirrorless. Kalau sedang ada promo pun, kamera ini tidak ikutan kena diskon. Masa bodoh, selakunya aja, karena bukan ditujukan untuk pengguna umum. Dan ini bukan spesifik untuk X100V saja, tapi juga kamera lain seperti Ricoh GR dan Sony RX1. Makanya ketika sekarang lagi hits motret pakai kamera “compact”, permintaan meningkatkan sedangkan stoknya dari dulu segitu-gitu aja. Di toko sudah habis dari kapan, yang punya pun mungkin tidak mau jual, jadinya harga melambung tinggi…

Ini diperparah dengan Fuji yang belum ada tanda-tanda mengeluarkan X100 berikutnya. Kalau penerus X70 sih jangan ditanya, sudah putus harapan. Sama juga dengan si Ricoh, tapi kalau Ricoh memang belum jadwalnya… dia punya siklus tiap empat tahun. Nah si Fuji ini… kalau dari segi jadwal, 2023 ini mestinya ada X100 baru tapi kok malah GFX lagi GFX lagi. 

Saking langkanya, banyak yang bikin konten “X100V alternatif” misalnya meracik X-E4 dengan lensa 23/2 yang tentu saja sama sekali berbeda. OVFnya mana? leaf shutter? flash internal? aaaaah.

Kecil harapan saya kamera compact lain (yang beneran compact) kayak Canon G7X atau Sony RX100 bakal muncul lagi, karena teknologi kamera smartphone sudah semakin mengejar, tidak ada poinnya bawa kamera terpisah. Tapi X100 dan GR, sudah punya segmen dan peruntukkan masing-masing, jadi mestinya ntar masih akan diproduksi. Ironis sekali, berbanding terbalik dengan kisah saya di awal, saat ini lebih mudah mencari Leica Q daripada X100V.

Sudah tiga tahun saya tidak pegang kamera ini, sampai pada pekan lalu, seorang warga binaan kirim pesan ke saya, menawarkan X100V miliknya. Jujur jika keuangan sedang longgar, bakal saya sikat. Tapi sayangnya sedang kurang sehat. Teman saya ini kurang paham jual beli, saya tidak mau dia ditipu oleh tengkulak. Akhirnya saya tawarkan untuk bantu jual. Tempo hari kameranya ada di tangan saya sih… memang mulus fullset dan bonusnya banyak sekali. 

baik sekali warga binaan saya ini, menitipkan kameranya di saya haha

Namun seperti yang saya perkirakan, gak sampai dua hari sudah sold sih. Kayaknya saya pasangnya kemurahan, di saat lapak lain pada 26-28 juta kamera doang, saya pasang 25 juta saja mana bonusnya seabrek (dan bakal kena pajak “Power Merchant” sekitar 800rb pula). Tapi tak mengapa, saya tidak mau terlihat serakah, saya pasang di harga yang wajar sajalah… meski bonusnya saja hampir dua juta nilainya. Itu sudah cukup bikin notif chat Tokopedia saya penuh sesak, meski kebanyakan pada tidak paham kata “NETT” dan masih coba-coba keberuntungan dengan memelas “kirain bisa 20” dll, yang padahal saya ini baik loh… kata NETT itu dicantumkan untuk mencegah mereka hidup dalam angan-angan dan berhenti berpikir bahwa semesta akan berjalan sesuai asumsi.

Tak usah khawatir, saya ini penjual profesional. Ketenangan dan kesabaran berbuah manis. Kameranya dibeli oleh seorang wanita terpelajar yang cuma sekali tanya stok, langsung check out dengan elegan, di pagi buta haha. Saya selalu puas setiap melepas barang istimewa ke pembeli yang menyenangkan.

Lumayanlah, bisa buat top up Genshin Impact…

Begitulah. Kemarin nostalgia dikit kameranya saya pakai sih… dan memang ada perasaan tertentu tiap pakai kamera X100 series. Dalam jiwa egois saya, rasanya kamera Fuji yang “Fuji banget” tuh hanya XPro dan X100. Sisanya terasa terlalu modern, dan malah mulai berorientasi ke video.

Jika memang ingin dan uangnya ada, ya belilah. Nanti semakin langka dan mungkin semakin mahal. Namun andai dalam beberapa saat ke depan harganya menembus 30 juta, dengan tegas saya nyatakan, tidak worth lagi untuk dibeli. Mending ambil Leica Q, yang walau secara fitur dan teknologi tertinggal beberapa tahun, tapi tetap saja Leica.