Pemuja Lensa Wide

Kemarin, setelah mempertimbangkan seharian, akhirnya aku beli lensa yang sudah beberapa saat aku idam-idamkan. Itu adalah Leica DG Summilux 9mm F/1.7, untuk MFT pastinya. Cukup mahal sih, ya seharga bekasnya Ricoh GR III atau Fuji X-T30 lah. Padahal ya, landscape gak pernah, motret arsitektur pun gak mungkin, sudah pasti ini lensa cuma aku pakai street atau portrait… duh, user MFT normal apalagi yang suka portrait, dana segitu pasti akan beli Leica 42.5 F/1.2 Nocticron. Bokeh. Kenapa aku selalu beli lensa wide dan sekarang ultrawide…? 

Yaaa, supaya tidak kontradiktif dengan artikel-artikelku yang lain yang isinya ajakan berhemat, aku setuju sekali satu kamera satu lensa itu cukup. Dan kalau harus memilih satu lensa saja, maka akan kupilih 28mm. Tapi di ekosistem MFT, yang benar-benar pas 28mm ya hanya Lumix 14mm F/2.5. Lensa itu tidak jelek, tapi tua sekali, AFnya lambat. Praktis sih pancake, tapi ya karena sudah tua tadi, jarang yang kondisinya mulus nan bersih.  Yang paling mendekati 28mm adalah Leica 15mm F/1.7 Summilux, 15mm dikali dua jadinya 30mm. Unik sih, dan lensa ini sangat bagus, tapi entah kok kurang saja rasanya.

Leica 9mm , ultrawide bebas distorsi

Aku bersyukur tidak memiliki hobi lain yang menguras dompet kecuali game Genshin Impact, jadinya aku bisa beli lensa-lensa untuk kucoba satu per satu hehe. Beberapa saat lalu aku beli lensa zoom yang bukaan konstan F/2.8 (baca di sini). Rasanya sia-sia karena aku cuma dapat beratnya doang, lensanya besar sekali karena zoom dari 24mm sampai 80mm, sialnya jarang aku zoom, terus saja dipakai di 24mm. ‘Kan mendingan pakai lensa fix saja, lebih kecil nan ringan.

Enaknya di ekosistem MFT tuh, lensa fix relatif murah, dan hampir semuanya kecil-kecil. Terkadang aku punya Leica 25mm atau Olympus 45mm (salah satu lensa terbaik MFT). Namun sekeras apa pun aku berusaha mencoba untuk suka, tetap saja aku tidak nyaman motret isi framenya terkompres dan backgroundnya bokeh semua. Yes, untuk portrait lensa dengan kaliber 50mm apalagi 90mm akan membuat wajah subjek jadi sempurna tanpa distorsi, tapi backgroundnya hilang semua. Selaku senang portrait di ruang terbuka tepi jalan, bagiku background itu sama pentingnya, harus ada dan dimunculkan.

Leica 9mm, yang bakal disangka Lumix 25mm kalau tidak dilihat dari dekat

Lagipula aku merasa pemalas dan bodoh sekali kalau portrait apalagi street pakai lensa panjang. Kayak gak ada usaha banget mencari komposisi atau cahaya, semua dipasrahkan pada bokeh. Ini jadi bikin aku bertanya, yang bikin fotonya tuh aku atau lensa?

Gimana ya… bagiku 35mm itu batas maksimal buat nyetrit. Lebih dari itu, aku akan hunting sambil minta didorong pakai kursi roda.

Tapi bukan berarti aku sangat peduli sama yang namanya komposisi rule of third, golden section dll sih. Karena berangkat dari street fotografi, aku merasa jauh lebih leluasa saja kalau pakai lensa wide. Aku senang sekali kalau background di belakang subjek tuh terbentang luas, langit biru dan awan terlihat jelas semua, para figuran yang hilir mudik.. ahhh…

Nah itu tadi, karena pilihan lensanya banyak, murah dan kecil-kecil, jadi aku coba-coba deh. Aku menganggap wide itu minimal 28mm. Di atas itu, sudah makin mendekati mata manusia dan tidak terasa efek lebarnya. Ini adalah rekomendasi lensa-lensa wide MFT yang pernah aku punya. Hampir semuanya lensa fix, karena saya anti zoom.

Olympus 12mm. Salah satu lensa terbaik. Tapi bagusnya beli yang hitam jangan silver.

Pertama, aku teringat Samyang 7.5mm (baca di sini). Sebetulnya lensa itu cukup asyik, tapi karena dia fisheye, maka distorsi tak bisa dihindari. Ruang gerak harus pintar disiasati, subjek pun mutlak harus di tengah frame, kalau tidak mau kepalanya jadi bulat atau lonjong. Namun lensa ini cuma dua juta kurang, untuk refreshing sih oke banget. Sebetulnya ada lensa lain yang sama-sama 7.5mm tapi linear bebas distorsi yakni Laowa 7.5mm. Katanya itu lensa yang sangat bagus, dibuat khusus untuk MFT. Tapi karena saya gak pernah punya jadi gak bisa berkomentar banyak.

Olympus 12mm termasuk lensa lama nan abadi di ekosistem MFT. Setara 24mm alias zoom terdekat di lensa kit. Ah lensa ini bagus sekali, saya suka lensa Olympus yang ada MF clutch, jadi ring fokusnya bisa ditarik dan langsung ada jarak MF, enak sekali untuk zone focus. Lensa ini sekitar lima jutaan, dan worth every single penny. Warnanya, kontras dan ketajaman… salah satu lensa MFT terbaik…

Leica 9mm, yang mahal bukan main. Baru dirilis pertengahan 2022 kemarin, dan aku jarang sekali lihat ada yang punya bahkan di forum MFT lokal sekalipun. Ini bisa dimaklumi karena kalau bukan fotografer landscape, pasti berat hati keluar banyak uang untuk lensa ultrawide. Ini tidak selebar Laowa, tapi ini ada auto fokus. Bobotnya ringan sekali… untuk harga 9 jutaan, aku sedikit kecewa dengan materialnya… identik sekali dengan Lumix 25/1.7, bener-bener plastik. Ya walau lensa ini anti cuaca, tapi tampak ringkih. Sepertinya dibuat ringan agar kompatibel dengan drone… walau aku berharap setidaknya pakai material seperti Summilux 15 atau minimal 25 lah.

Tapi soal performa… waaaah. Ngebut sekali, warnanya asyik, untuk portrait eksperimental juga keren sekali, bisa fokus sangat dekat. Dan karena bukaannya F/1.7, kondisi gelap aman sekali. Bokeh juga masih bisa lah (asal sangat dekat). Coba saja lensa ini 5 jutaan, pasti laku keras. Karena harganya mahal, orang jadi pikir panjang, karena budget segitu pada memprioritaskan lensa panjang.

Aku kerap punya Lumix 14mm, salah satu lensa tertua di jagat mirrorless. Ini murah sekali, sejutaan bisa dapet. Pancake, ringan, tajam. Tapi karena ini lensa tua, jarang ada yang mulus. Dan harap maklum, AF sangat lelet, flare juga aneh. Biasanya kalau lagi low budget, aku beli lensa ini haha. Dipasang di bodi kecil macam Lumix GF atau Olympus E-PL, enak sekali.

Lensa kit juga asal tidak dizoom, jarak awalnya 24mm atau 28mm. Sudah sangat cocok. Dan memang lensa kit itu ketika dizoom menyakitkan sekali, F langsung drop jadi F/5.6. Sama sekali tidak bertambah tajam karena itu stop down yang dipaksa, bukan sukarela. Tapi aku sempat beberapa saat hanya pakai kit 14-42 EZ pancake Olympus, enak-enak aja, aku gak merasa kehilangan apa pun, tapi juga ya tidak istimewa.

Oooh iya ada satu lagi lensa unik, namanya Olympus 9mm F/8 body cap lens. Kalau kamu suka lihat reels orang bolongin lens cap lantas dipasangi optik bekas digicam lantas hasilnya seperti pin hole, nah di MFT gak usah susah-payah karena sudah diciptakan kok. Paling harganya sekitar 500 ribu, dan jangan harap hasilnya bagus. Menurutku sih tidak ada keuntungan signifikan pakai lensa ini karena kit 14-42 EZ pun sudah sangat tipis, dengan hasil yang jauh lebih wajar.

Aaaaahhhhh, tapi ada beberapa hal yang harus diingat ketika kamu hanya pakai satu lensa dan itu wide. Pertama jelas, kamu harus mendekat pada subjek. Di jalanan, bikin jadi pemberani, atau setidaknya terpaksa untuk berani. Kalau di acara portrait bersama teman, ya kamu gak bisa foto model berbarengan karena kamu harus lebih dekat, jadinya gantian. Lagipula saya gak suka foto model banyakan… (baca di sini)

Di sisi lain, ketika hanya bawa lensa wide tuh… enak aja, nyetrit bisa, portrait juga bisa. Ya sebetulnya itu pun berlaku untuk lensa 50mm ke atas sih. Hanya saja ketika memotret di lokasi sempit, terlihat mana focal length yang lebih multi guna. Lebih banyak hal yang masuk ke dalam frame, lebih banyak cerita, lebih banyak langkah kaki. Fotografer kesukaan saya seperti Tatsuo dan Daido, pakem sekali pakai kamera yang lensanya gak bisa diganti. Tatsuo selalu 35mm dan belakangan jadi 28mm, masih bisa bikin portrait yang lebih bagus daripada urbex Bandung dengan lensa 85mm GM kok.

Kalau pada akhirnya kita menganggap 24mm 28mm dan sebagainya itu sekadar jarak optikal pada lensa, itu salah. Ini adalah pilihan, yang mewakili dan meneruskan gaya, selera, serta filosofi kita dalam memotret. Orang yang suka pakai lensa fix beda dengan yang hobi zoom, biasanya udah pakem punya satu focal length kesukaan.

Kamu gimana?