Beberapa saat lalu aku melihat sebuah poster workshop fotografi yang… agak menggugah, sekaligus menggelitik.
Jadi itu workshop tentang flash slow snyc di jalanan. Dikenai biaya sekian ratus ribu untuk beberapa jam. Anu, sejujurnya foto yang dijadikan posternya kok tidak terlalu bagus, bahkan kalau itu saya yang jepret, ya termasuknya gagal dan langsung saya hapus haha. Tapi ya… memang pemirsa memang menginginkan kelas-kelas fotografi bahkan siap bayar, tinggal bagaimana memilih yang paling punya value, karena masuknya ‘kan investasi.
Jadi kepikiran sih, kalau yang begitu aja ratusan ribu, berarti hunting sama saya nilainya pasti minimal sepuluh juta haha. Sebuah statement yang bold sekali ya, tapi saya paham betul kapasitas, value serta kemampuan saya sebagai mentor.

Demikian, kita hidup di jaman yang mana, seseorang yang baru beli kamera langsung otomatis dapat predikat “fotografer”. Setahun motret sudah jadi expert, dan ngumpul bareng bahas-bahas foto bakal jadi filsuf fotografi. Ada tuh di Bandung, komunitas fotografi wahabi. Kalau gak sepakat sama pemikiran mereka, auto haram dan dimusuhi.
Begini… street fotografi itu harus menyenangkan. Tidak semua dari kita memotret di jalan untuk berfilosofi. Ada yang hanya sekadar sambil jalan menuju kantor, ada juga yang untuk melepas lelah rekreasi di akhir pekan. Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang bakal hunting bareng atau diskusi foto, dan lebih sedikit pula yang punya ambisi bikin pameran atau cetak buku. Namun demikian, bukan berarti kegiatan street fotografi ini dilakukan dengan datar-datar saja tanpa ada progres.
Aku mencintai genre ini. Lebih kurang sudah dua belas tahun turun ke jalanan. Sedikit demi sedikit, gaya akan terbentuk. Juga dalam hal penguasaan teknis, bahkan pemahaman tentang gear. Anu… aku tidak mau menulis CV dalam hal fotografi, karena tidak penting. Atau pun menyombongkan sudah menang lomba apa. Jujur aku tidak pernah menang lomba, karena memang tidak pernah ikutan. Ya karena aku punya prinsip, semoga kalian pun demikian. Namun jam terbang ini memang bikin aku agak paham banyak hal sih.

Pernah aku menulis wejangan untuk street tog pemula. Salah satu hal krusial yang akan membentuk gaya foto serta karakter kalian di jalanan, adalah dengan belajar bersama guru yang tepat. Perkara di dunia kita adalah, banyak orang hebat dalam fotografi tapi tidak mau menjadi mentor, dan banyak yang jadi mentor padahal aslinya payah. Juga banyak yang jadi mentor atas dasar view dan like yang meriah. Kalau di awal sudah berguru dan meniru sosok yang salah, pun juga gabung-gabung komunitas foto yang berisik tanpa isi, wah… arah fotografi kalian ke depannya bakal terus begitu.
Gimana ya… aku sudah merilis beberapa buku yang isinya pengembangan teknis juga psikis di jalanan. Sudah gak terhitung berapa warga binaan yang main ke Bandung, lalu menghubungi saya untuk hunting bareng. Kerap juga aku hunting dengan mereka yang sepintas sudah terlihat jago, namun ternyata tetap pada kaget ketika lihat setting serta cara saya menjepret. Itu tidak ada masalah, karena saya gemar berbagi apa yang saya tahu, dan rela mengajarkan apa yang saya kuasai.
Entah sudah berapa ratus orang yang hunting sama saya, juga ratusan nama yang saya ajak ikut bikin zine Storyofthestreet. Emang pada dasarnya, saya gak mau kalau jago sendirian, saya ingin mengajak mereka yang memang mau belajar bareng.
Aku tidak terlalu tahu sih kalau workshop atau fotografi class untuk genre lain. Tapi untuk street, ya… penting tidak penting. Dibilang penting pun, sebenernya dilakukan sendirian tanpa bimbingan pun nanti juga jago sendiri. Tapi kalau dibilang tidak penting, ya gimana ya… masa awal nyetrit tuh penuh trial dan error, pun sangat menentukan arah ke depannya. Lagian, mana ada ilmu yang tidak penting, apalagi kalau dibimbing langsung sama ahlinya.
Di sini malah ada hunting bareng pasar berbayar bersama mentor. Gimana tuh cara handle peserta banyakan di tengah kerumunan, serta apa yang bisa diajarkan oleh mentor pada peserta, ya aku ingin tahu juga…

Atas saran beberapa kawan, mereka kasih ide saya bikin semacam kelas privat. Full satu hari, maksimal satu atau dua murid. Dengan berbagai kondisi cahaya mulai dari pagi hingga malam, dan berbagai situasi jalanan. Tentu dengan materi yang paling saya kuasai yakni menjadi pemberani dan elegan di jalanan. Kami yakin, dengan tatap muka satu lawan satu, akan jauh lebih personal serta mendalam dari segi belajar-mengajar.
Aku tidak pernah melakukan sesuatu atas dasar uang. Aku juga tidak memotret untuk komersil. Aku hanya suka berbagi, dan ingin terus berkontribusi untuk street fotografi. Aku tidak akan naif, aku sadar bahwa aku punya kemampuan untuk memengaruhi orang… serta bikin orang mentransfer sejumlah uang ke rekening haha. Ya artinya, suara dan pemikiran saya sudah lumayan diakui.
Untuk kalian yang pemula atau sudah tingkat lanjut, yang ingin mempertajam kemampuan dalam dunia street, saya siap membagi ilmu dan pengalaman. Bersama kawan saya Randy, sudah disiapkan modul belajar yang paling efektif. Dalam satu hari, kamu yang tadinya pemula, sudah harus pulang ke rumah sebagai sosok yang percaya diri dalam segi teknis dan psikis. Perlu diketahui, turun ke jalanan itu faktor teknis hanya sekitar 30%, sisanya adalah mental.

Pagagraf awal pasti terdengar agak sombong, tapi ya memang iya. Memangnya kalian maunya punya guru yang baik atau guru yang berkarakter? kalian mau datang hunting bareng berkali-kali tanpa dapat apa-apa, atau satu hari penuh siksaan tapi pulang dengan cakrawala baru? mau salah beli kamera dan lensa karena termakan sales toko dan Youtube, atau dari orang yang tiap sebulan sekali ganti kamera?
Kelas ini dibatasi hanya sekali per minggu, dan dilaksanakan seharian penuh pada akhir pekan. Bisa anda datang ke Bandung, bisa juga saya datang ke Jakarta dan sekitarnya.
Hubungi Randy untuk booking kelasnya. Maksimal dua orang per sesi. Diharapkan sudah punya kamera masing-masing, dan dilarang keras bawa lensa di atas 50mm.

Apakah bayar? hm… ingat apa kata Joker, jika kamu hebat dalam suatu hal, jangan pernah melakukannya dengan gratis. Waktu adalah uang, kalau dalam satu hari kamu bisa langsung hebat, berapa banyak waktu dan biaya trial error yang dihemat. Investasi tidak hanya dalam gear, melainkan juga skill.
Anu… aku tidak klaim bahwa aku adalah mentor terbaik untuk urusan foto di jalanan. Tapi dengan kalian tiba di halaman ini pun, sudah jelas kalian tahu saya ‘kan. Haha.
Trial dan error dalam street fotografi bisa makan waktu sekitar dua tahun. Kenapa tidak skip bagian trial dan errornya, dengan belajar dengan metode yang paling efektif? jangan kelamaan buang waktu sebagai pemula, potong jarak sehingga langsung jadi cakap.
Salam fotografi!

