Jaman sekarang enak, beda dengan awal-awal lahirnya mirrorless. Pilihan lensa bawaan brand cukup sedikit, makanya dulu pakai lensa vintage plus adapter jadi pilihan popular. Kendati demikian, bentuknya jadi aneh… coba diingat-ingat, medio 2013 kamera mirrorless dikenal karena apa? Yap, ukurannya. Menancap lensa vintage yang rata-rata ukurannya gede plus bobot berat karena full besi, bikin penampakan jadi konyol. Itu belum termasuk adapternya, yang juga tidak simpel karena lensa vintage pun ada banyak mounting.
Dahulu kala, saya suka cari lensa vintage yang pakai mounting M42, supaya saya cukup punya satu adapter saja. Boleh saja beli Minolta Rokkor atau Canon FD, asal sudah oprek mounting jadi M42 he he.
Dulu, itu solusi hemat nan menyenangkan. Hemat karena lensa vintage M42 rata-rata hanya sejutaan, bukaan besar F/1.4 atau F/1.8, dan juga lensa-lensa lawas itu membawa karakter khusus masing-masing. Walau kadang sih solusi itu hanya optimal buat pengguna mirrorless full frame, saat itu A7 biasa. Anggaplah canon FD 50mm F/1.4, itu akan jadi 100mm pada kamera Olympus, dan 75mm pada Fujifilm. Karena ada crop factor. Yang mana tetap jauh lebih murah daripada beli lensa bawaan yang focal length-nya mirip, Fujinon 56mm, misalnya.
Kala itu belum ada Artisan, Kamlan, Laowa dan teman-temannya. Eh Laowa gak murah sih. Tapi intinya, kalau mau murah, ya adapterkan lensa vintage. Dengan konsekuensi berat, pegel muter-muter ring fokus, dan focal length yang kelewat panjang.
Kemudian saya ingat, suatu Ketika muncul Meike 35mm F/1.7. Buat saya yang kala itu pakai X-T10, 1,5 juta terdengar sangat menggembirakan daripada beli Fujinon 35mm F/1.4. Masa bodoh harus muter-muter ring fokus, yang penting tinggal tancap serta ukurannya klop dengan bodi. Eh… beberapa hari pakai, astaga, hasilnya bener-bener payah, sangat tidak berkarakter. Ini cuma dapet murah dan repotnya saja, tidak lebih. Masih mending beli Fujian CCTV, cuma 300 ribu, walau hasilnya berantakan tapi berkarakter, bokehnya melintir. 1,5 juta daripada beli si Meike yang hasilnya datar-datar saja, mending beli lensa vintage Helios atau apalah, atau lensa kit sekalian, jelas-jelas auto fokus.
Dewasa ini, populasi lensa manual China sejutaan, makin menjamur. Kualitasnya makin baik menurut saya, variasi juga banyak. Sebaliknya, itu lensa-lensa vintage yang dahulu sejutaan, sekarang saya cek harga bekasnya di marketplace, sudah dua kali lipatnya.


(sampel lensa fisheye TTartisan)
Di antara merek-merek yang beredar, saya beli TTartisan. Atas dasar review-review di internet, dan juga kebutuhan. Karena suatu ketika saya butuh lensa fisheye, dia punya 7.5mm, sekitar 1.5 juta. Ini nyaris hanya 20% dari harga fisheye Lumix atau Olympus, tak ada AF ya tak masalah, toh fisheye hampir selalu diset pada infiniti ‘kan.



Tak lama kemudian saya beli yang 35mm F/1.4. Walau tulisannya untuk Micro Four Third, tapi rasanya aneh karena jadi 70mm. Focal length apaan. Bahkan pada lens capnya saja tulisannya APSC, ini saya curiga adalah beda yang sama untuk Fuji / Sony APSC, cuma oprek mounting saja. Pemalas. Untuk APSC sih oke, jadinya 53mm, deket ke 50mm. Untuk MFT semestinya dibuat 25mm untuk mengakomodir kebutuhan 50mm. Sekaligus jadi saingan langsung Summilux 25mm, Zuiko 25mm dan Lumix 25mm.



Hal yang saya suka dari lensa-lensa ini, built quality lumayan. Full metal, sudah pasti. Ring fokus… yah jangan berharap terlalu smooth atau presisi. Bukaan pasti selalu besar, biar orang-orang senang.
Gimana hasil fotonya?


(sampel lensa TTartisan 35mm)
Di atas, ada dua sampel foto, tapi monokrom haha. Dan tidak adil karena yang fisheye saya pakai body Lumix, yang 35mm pakai Olympus. Buat yang belum tahu, kalau sama-sama MFT, untuk foto Olympus warna dan dynamic range jauh lebih superior, jadi walau lensanya sama tapi karakter bawaan bodi ya masuk juga.
Tapi secara general, ya ada karakter khas. Wide open sangat soft, flare juga tidak rapi. Garis-garis ungu, jelas sekali. Kontras sangat rendah, pada saat ngedit, Secara umum ini jauh lebih baik daripada lensa manual sejutaan di masa 2015an. Namun dibanding lensa vintage M42, ya saya milih lensa vintage. Sama-sama repot muter ring fokus, mending yang hasilnya berkarakter sekalian ‘kan.
Kendati demikian sekarang saya kerap menemukan kok street tog pemula yang pakai lensa-lensa sejutaan macam ini di jalanan. Dilihat dari body kameranya yang Fuji X-A atau EOS M, sepertinya alasan mereka beli ya sama kayak saya, faktor ekonomi haha. Dan yang penting bokeh ‘kan? Dan itu bagus, soalnya saya suka lihat yang pakai lensa kit AF tapi main di MF, dengan alasan bisa fokus lebih dekat dan lebih bokeh. Whaaaattt???
Menurut saya, worth it atau tidak? Ya worth it. Simpel, murah, hasil cukup. Jauh lebih baik daripada dahulu, setidaknya hasil fotonya lebih bagus daripada lensa kit yang harganya sedikit lebih mahal. Itu saja sudah memberi nilai lebih ‘kan. Dari semua merek lensa manual “murah”, TTartisan menurut saya yang paling lumayan. Laowa jauh lebih bagus sih tapi tidak murah, malah hampir sama harganya dengan lensa AF keluaran brand kamera… nah kalau harganya sama tapi yang satu cuma bisa MF, saya yakin hasil fotonya bagusan yang MF only. Dan memang Laowa itu sangat bagus haha.
Pada akhirnya semua bergantung budget dan kebutuhan. Selama kamu motretnya Bahagia, hasil fotonya kamu suka, ya sudah. Kalau gak mau bingung beli lensa, solusinya ya beli kamera yang lensanya gak bisa diganti… Leica Q atau apalah gitu.

