Sekitar dua tahun lalu, saat pandemi zombie mulai menyerang, saya sangat merasakan dampaknya. Sebagai wirausahawan tulen, saya tidak pernah merasakan yang namanya gajian. Penghasilan saya sangat bergantung pada kondisi umat manusia di Bumi ini. Sampai akhirnya keputusan pahit harus dibuat, mobil kesayangan saya mesti dijual demi menyambung hidup. Bukan mobil mahal sih, cuma Ford Fiesta, tapi karena saya beli pakai uang sendiri bukan limpahan orang tua, jadinya saya punya ikatan batin dengan mobil itu, bahkan saya kasih dia nama, “Alexa Bliss”.
Tadinya uang hasil penjualan mau langsung saya pakai merintis usaha baru, namun dengan melihat situasi dunia yang tidak menentu, niat itu saya tunda dahulu.
Uangnya saya titipkan pada ibu saya (sampai sekarang belum saya ambil, mudah-mudahan masih ada). Saya cuma kutip sekitar 20 juta, untuk saya belikan sebuah motor bekas, Satria FU. Ya soalnya dulu pas remaja saya punya motor itu, jadinya pengen lagi, kali aja jadi kembali berjiwa remaja. Sisanya saya belikan sebuah kamera yaitu Fujifilm X70, supaya simpel dan gak harus beli-beli lensa lagi.
“Betul segitu cukup…?” tanya ibu saya kala itu.
“Cukup, masih sisa kalau sekadar buat pegangan…” jawabku.
“Cari uangnya dari kamera..?”
“Betul.”
Barangkali orang tua saya nyangka saya motret orang nikah atau orok baru lahir. Tidak juga sih, saya motret pelacur-pelacur telanjang untuk kemudian saya jadikan buku, luar biasa laku keras apalagi di pasar Jepang dan Korea. Saya ini pengagum Daido, dan kalau mau niru tuh jangan setengah-setengah hehe. Tips dan trik menerbitkan buku sendiri pernah saya jabarkan di sini. Itu cukup menyenangkan dan sangat menghasilkan, namun tidak bisa sering-sering saya lakukan, selain daripada menjaga minat dan rasa kangen pemirsa, memang susah juga mengumpulkan bahan foto untuk dijadikan buku tuh, butuh waktu lama.

Lantas apa berikutnya…? ya saya jualan benda yang saya sukai : kamera.
Barangkali kamu pernah baca tulisan saya yang judulnya “Sempat Kaya dari Jualan Kamera” , ya walau itu kisah nyata dan kedengarannya keren, namun karena awal serta prosesnya agak khusus alias tidak akan terjadi pada sembarang orang, ya tidak perlu dibahas. Lagian juga saat ini saya tidak lagi jualan Fujifilm… (padahal di artikel itu brand kameranya saya sensor sedemikan rupa haha…)
Baiklah… caranya adalah… beli kamera atau lensa apapun yang kalian suka dan bakal terpakai sehari-hari. Kok begitu? iyalah, walau direncanakan untuk dijual, tapi barangnya kamu suka dan bisa pakai ‘kan. Ketika bosan, bisa kamu jual, atau malah tidak harus menunggu bosan. Namun tentunya tidak sesederhana itu, minimal kamu harus paham betul luar dalam dari sistem kamera tersebut, harus tahu dinamika pasar, serta ada modal plus sedikit kemampuan dagang.

Bangun tidur sambil merokok dan nongkrong di toilet, saya pasti buka Tokopedia. Gak jauh-jauh, yang saya cari pasti Lumix, Olympus, Ricoh GR, Leica dan Fujifilm. Karena merek-merek itulah yang sangat saya pahami sistem dan juga dinamika pasarnya. Cari yang kondisinya prima dan harganya harus di bawah pasaran, nego sedikit, beli, periksa kondisi dan foto-foto untuk dipasang lagi di Tokopedia, selesai. Sambil nunggu laku, barangnya saya pakai.
Saya seringnya beli-beli produk MFT sih. Soalnya saya punya sedikit cheat code, saya ini founder sekaligus admin grup Lumix jadi kalau saya pasang iklan, bisa saya “pin” di atas hahahaha. Selain itu, harga lensa-lensa serta bodi MFT tuh murah-murah. Kalau sama-sama demi keuntungan 500rb per unit, ngapain saya ngemodal 10jt buat beli lensa Fujinon, mending saya belikan tiga buah lensa M.Zuiko, cuan sudah 500rb dikali tiga unit. Betul ‘kan?
Mohon maaf saya tidak tahu dinamika pasar Canon, Nikon dan Sony. Karena tidak pernah pakai juga. Tapi memang dari pengalaman, jualan Fujifilm tuh paling cepat. Usernya banyak, tapi saingan jualannya juga banyak. Semakin banyak yang jual, semakin harga itu dikendalikan oleh pasar. Beda dengan kalau jualan benda yang sedikit langka misalnya Leica M5, harga bebas aja. Nah, posisinya produk-produk MFT tuh tidak se-dinamis Fujifilm, namun sekalinya iklan kita dilihat sama yang nyari, langsung check out. Inilah pentingnya memahami luar dalam benda-benda dari sebuah brand. Saya tidak mau konyol dengan membeli lensa Olympus 75mm misalnya, yang walaupun sangat bagus apalagi harganya juga enak, tapi yang nyari jarang, ngapain saya koleksi ‘kan…
dengan memahami harga tertinggi dan terendah sebuah barang plus kecenderungan naik-turun nilainya, serta mendapatkan barang yang di bawah harga pasar, kamu akan memperkecil risiko rugi pada kemungkinan terburuk.
Anggaplah kamu ada uang nganggur 10jt, nah mulai saja dulu, jadikan 2-3 unit kamera / lensa kelas menengah yang kira-kira peminatnya banyak. Laku satu, beli lagi, ambil untungnya, beli lagi, jual lagi dst. Menyenangkan karena kamu bisa mencoba gear-gear baru, dan hitungannya kamu motret gratis gak modal kamera, itu ‘kan kamera jualan, nanti ditukar sama uang.
Saat ini saya memutarkan sekitar -+40 juta dalam bentuk gear-gear MFT. Rata-rata sebulan keluar masuk sepuluh unit lah, pukul rata satu unit memberi keuntungan 500rb, maka saya mengantongi keuntungan 5 juta hanya dari check out barang, lap sampai bersih lalu jual kembali. Tidak melulu stabil segitu sih, bergantung ketersediaan barang di pasaran juga, karena kita ngambil dari sesama user, bukan dipasok sama tengkulak kayak di cerpen saya itu. Namun demikian, daripada uang saya nganggur di bank, alih-alih bertambah malah terus berkurang, lebih baik saya putarkan dalam bentuk benda-benda yang saya sukai dan jelas bisa saya pakai. Tidak terlalu memakan waktu dan tenaga juga, tapi yang penting ya itu, hasrat “lapar mata” terobati dan malahan dapat untung.
Tidak banyak memang, namanya juga sampingan. Tapi ini cukup untuk mendanai kegiatan hunting-hunting saya, dan top up cystal di game Genshin Impact… (sial, saya sudah jadi whale huhu)

Itu sih, kelakuan sehari-hari saya. Jadi saya tidak bohong ‘kan pada orang tua, saya memang cari uang dari kamera. Kita tidak harus motret kawinan atau video slow motion barista untuk dapat uang dari hobi main kamera kok, masih banyak cara-cara lain. Sekian. Daaah.







