Terpaksa Ganti Kamera, Lalu Beli Ini

Padahal saya lagi senang-senangnya pakai kamera ini, bahkan aku baru beli lensa supaya motret makin lengkap. Eh tiba-tiba saja tanpa gejala…. 

Ya… hampir tiga bulan aku pakai Lumix GX85. Kamera ini tidak istimewa dalam satu hal, tapi berfungsi dengan baik untuk semua hal. Foto oke, video mantap, stabilizer juara, fokus sat set, fitur-fitur setara kamera lain yang harganya dua kali lipat ini. Apalagi ya ‘kan? paling yang saya tidak suka, internal flash sync mentok di 1/160″, tapi itu tak apa karera seringnya foto malam yang cukup di 1/20″. Dan entah kenapa ngeflash malam-malam pakai ini, hasilnya bagus sekali. Praktis pula, karena ada pop-up flash, tidak seperti Pen F, E-M5 ii atau X-E3 yang harus bawa flash terpisah.

Inilah awal masalahnya. Tak ada angin apalagi hujan, flashnya meledak, ha ha. Bukan seperti lampu motor yang kalau mati ya mati saja, ini diawali dulu dengan ledakan, seperti korslet. Saya bingung, pernah juga sih lihat kamera teman mengalami hal serupa tapi gara-gara motret pas gerimis. Ini sudah berbulan-bulan musim panas, kamera saya tidak basah. Barangkali karena faktor umur juga, tapi saya cek shutter count kamera ini baru 13.xxx an, dan flash menyala sekitar 8xx saja. Flash mana yang mati setelah 800 jepret…? padahal saya selalu pakai flash pop-up, baik di Ricoh atau Fuji, tapi tidak pernah sampai tewas.

Ah… ya sudah, anggap saja karma karena saya suka ngeflash orang asing di jalanan tanpa permisi. Yang mati hanya flash sih, bahkan ikon flash di layarnya pun merah… sisanya normal saja. Tapi flash pop-up adalah jiwa raga saya. Saya agak pesimis Lumix sini bisa benerin hal ini. Beli flash eksternal pun rasanya… saya tidak tahu brand apa yang bikin flash TTL untuk MFT, lagipula merepotkan sekali di jalanan pakai flash besar-besar… itu menggugurkan poin dari nyetrit apalagi pakai MFT, simpel dan ringan. Tentu pakai flash eksternal hasilnya lebih rapi sempurna, tapi di jalanan saya tidak mencari kesempurnaan. Kalau bawanya saja sudah berat, bagaimana bisa motret dengan nyaman.

Singkat cerita saya menolak beli flash eksternal dan tidak berminat servis ke mana pun. Jadinya GX85 saya jual murah, harga minus. Rugi benar… kalau normal, body kamera ini bernilai 4.5-5 juta, karena minus, jadilah sold di angka 3.75 juta saja. Haaaaaah.

Tantangan berikutnya adalah… beli kamera pengganti. Saya memang masih punya beberapa lensa MFT, tapi bukan berarti harus beli kamera MFT lagi. Dalam hemat saya, kamera MFT (atau mirrorless apa pun) yang paling layak ya Lumix GX85. Hahhh, baterai-baterai cadangan pun sudah saya bonuskan untuk yang beli. Saya berpikir untuk beli kamera lain saja, kembali ke pocket APSC sepertinya menarik… biar di jalanan, semakin simpel.

Fujifilm X70

Sebagaimana kita (atau hanya saya) tahu, bahwa harga bekas kamera pocket APSC sedang parah-parahnya. Jangan tanya barunya karena sudah tidak ada. Bahkan kemarin saya cek, Fujifilm X70 sudah menembus SEMBILAN JUTA. Hebatnya, laku. Soalnya iklan sudah tiada. Saya tahu sih itu seller memang tukang goreng, dia seller pertama yang bikin X70 menembus tujuh juta, kemudian delapan juta, dan kini sembilan. Namun karena laku-laku saja, yang lain jadi ikutan. Jadi selain memang barangnya semakin sedikit, juga ada permainan dari oknum-oknum gorengan. Panjang kalau dijelaskan, baca saja artikel sebelumnya.

Kemudian aku mengingat-ingat lagi, apa ya kamera compact yang enak dan layak. Fuji X70 dan Ricoh GR II sudah ghaib. Mau beli pocket 1″ kayak Canon G7X atau Sony RX100 juga sama aja harganya. Bingung sih mau beli apa, masa beli GX85 lagi… 

Tiba-tiba aku teringat sebuah kamera yang dulu pernah kupunya. Itu adalah Nikon Coolpix A. Dulu punya beli baru tapi hanya sebentar saja, saya jual karena harus bayar cicilan mobil. Sedih juga sih kalau diingat kembali.

dulu aku punya itu… kamera Coolpix A

Segera aku cari di Tokopedia. Secara default, langsung filter “bekas”, dan tentu saja tidak ada hasil apa pun. Ini bisa dimaklum karena jangankan ada yang jual bekas, ada yang tahu kamera ini eksis pun mungkin jarang. Padahal kamera ini lahir duluan sebelum Ricoh GR APSC (alias GR I) lho. 

Eh… pas filternya aku ganti jadi “baru”, ada ternyata yang jual. Tokocamzone menjual ini seharga delapan juta kurang dikit. Rasanya kemahalan deh, kalau aku niat mengeluarkan delapan juta, aku akan bersabar sampai GR II muncul di Tokopedia. Lalu juga ada yang enam juta tapi silver. Bukan silver atasnya doang kayak Fuji, melainkan seluruh bodinya silver, mana tahan. Lantas aku scroll lagi, nemu, 5.2 juta baru, tokonya pun official ceklis ungu. Segera aku chat, apakah ada dan apakah warnanya hitam. Tak lama kemudian dibalas, ada dan hitam. Ya sudah, aku check out.

Kamera ini… gimana ya. Dua tahun setelah jual yang pertama, aku sempat beli lagi, kondisi bekas tiga juta saja, sulit ditolak. Tapi waktu itu, ketika barangnya tiba ternyata sensornya kotor sekali, foto F besar menghadap langit, kelihatan bercak-bercak parah. Ini kondisi yang umum untuk kamera pocket yang lensanya gak bisa dicopot, tapi selaku punya pilihan, tentu aku ingin yang normal-normal saja. Oleh sebab itu, langsung saya return. Batal nostalgia.

Kalau yang sekarang dibeli, ya karena baru mestinya aman-aman saja. Saat tulisan ini dibuat, saya belum menerima barangnya. Nanti kalau sudah pegang dan foto-foto, pasti saya review. Kamera ini baterainya sama dengan Nikon 1 jadi harusnya tidak susah dicari. Maklum, saya kalau hunting butuh beberapa baterai.

Di luar fakta yang sudah jelas seperti bentuknya simpel dengan lensa fix 28mm, beberapa hal yang saya ingat dari kamera ini: bodi solid full metal, made in Japan bahkan ditulis. AF… ya tidak seperti GR, agak lambat, teknologi tahun segitu. Tapi saya seringnya pakai zone focus satu meter jadi aman lah. Oh iya, kalau ngeflash malam-malam, efek blurnya agak berbeda daripada GR atau X70, lebih “3D”.

Itu adalah sampel foto-foto dari tahun 2018 pas saya masih punya kamera itu. Sebetulnya ingin edit ulang dari RAW, tapi entah mengapa SD card kamera itu hilang entah ke mana… sayang sekali.

Ya… kalau semuanya lancar, dalam beberapa hari ke depan saya akan jajal kameranya di jalanan, serta tentu ada review sedikit. Kendati demikian, jangan terpengaruh apa pun yang bakal saya tulis karena walau kalian sangat ingin kamera ini, sepertinya yang jual nyaris tidak ada. Jangan sampai juga tulisan ini dibaca oleh tukang goreng menggoreng harga… biarkanlah tetap jadi hidden gems.