Sudah lama tidak menulis tips yang berkaitan dengan teknis. Selama ini kebanyakan nulis aspek psikologis haha. Tujuannya ‘kan tetap satu, mengajak setiap warga binaan menjadi fotografer yang lebih keren.
Baiklah… kenapa 28mm? kenapa bukan 24mm atau 35mm, ‘kan berdekatan tuh?
Ya memang. Karena berdekatan itulah, 28mm sudah mewakili 24mm dan 35mm. Tidak terlalu lebar sampai distorsi, juga tidak sempit-sempit amat. Walau sebetulnya 35mm lebih bisa disebut lensa paling “normal” dan “tengah-tengah” sih, namun ada alasan lain mengapa saya membahas 28mm. Di luar memang saya akrab dan menguasai 28mm, kebanyakan orang juga pasti punya lensa 28mm. Kebanyakan FL utama pada kamera smartphone yang sehari-hari kita punya juga 28mm.
Kalau beli kamera sepaket kit, pasti zoomnya 28-7x, misalnya Fujinon XF 18-55mm atau Olympus 14-42mm. Kendati bisa zoom, tapi bukaan terbesar dan spot terbaiknya di paling wide. Walau kadang ada juga yang diawali di 24mm, tapi 28mm lebih umum dan normal. Misalnya pakai pocket premium seperti Ricoh GR, Fuji X70, Leica Q dll… itu fix 28mm.. Mau beli lensa fix untuk mirrorless? saya bisa jamin, 28mm itu pasti lebih murah daripada 35mm… misalnya, Fujinon 18/2 cuma 3 jutaan bekasnya, sedangkan Fujinon 23/2 sekitar 4 juta. Selain berhemat, ukurannya pasti lebih ringkas. Itulah mengapa saya lebih menyarankan untuk beli fix 28mm daripada 35mm.
Maka sudah seharusnya kita akrab dengan 28mm, dan kalau perlu menguasainya untuk berbagai situasi. Kecuali untuk sport dan wild life, rasanya segala jenis fotografi lainnya aman-aman saja pakai 28mm. Portrait bukan pengecualian…

Saya seringnya pakai kamera pocket dengan lensa fix 28mm, misalnya Nikon Coolpix A yang saat ini sedang jadi kamera utama. Karena saya sudah tahu, saya hanya akan memotret street dan portrait. Tidak akan pernah saya memotret pertandingan sepakbola atau burung, makanya 28mm sudah sangat cukup. Dalam kaitannya dengan portrait, tentu 28mm bukan FL yang paling umum. Idealnya 80-100mm kalau ingin wajah subjek tidak distorsi, serta efek blur background yang maksimal.
Tapi bagaimana jika kita tidak butuh yang namanya bokeh? bagaimana jika kita sukanya subjek dan background itu bersinergi? dan yang terutama, bagaimana jika lensa 28mm adalah satu-satunya lensa yang dimiliki?
Untuk itulah tulisan ini dibuat. Berikut tips-tips portrait pakai lensa 28mm~
1. Set F sampai F/8-11.
Sudah takdirnya, 28mm tidak akan memproduksi bokeh sebanyak 50mm atau di atasnya. Daripada pakai wide open dan blur background terlihat nanggung, lebih baik stop down sekalian supaya tajam dari ujung ke ujung. Dengan demikian subjek tidak akan terisolasi dari latar belakang lingkungan di sekitarnya, sehingga tercipta nuansa dan sinergi.

2. Komposisi dan area negatif.
Menyambung poin pertama, ada baiknya demi kenikmatan mata, atur komposisi 50:50. Sebagian isinya kepadatan latar belakang, sebagian lagi misalnya langit. Terlebih ketika main foto hitam putih, sebagian hitam dan sebagian putih akan memberikan keseimbangan.

3. Leading lines.
Boleh menaruh subjek di rule of third, boleh juga di tengah, tapi pastikan ada garis yang mengarahkan pandangan pemirsa pada subjek. Garis di sini tak melulu misalnya zebra cross atau aspal, bisa juga gedung yang berjejer, deretan mobil atau apa saja, istilahnya garis imajiner.

4. Permainan cahaya dan bayangan.
Ini menyenangkan karena dengan lensa wide yang tidak ada bokeh-bokehnya, semua hal dalam frame bisa terlihat tajam dan saling mengisi. Jangan ragu untuk memotret di kala cahaya keras dan matahari terik, kamu bisa bikin semburat cahaya mengintip dari balik gedung. Boleh juga menggunakan flash, untuk meratakan cahaya pada wajah subjek.

Oh iya, kamu bisa dengan mudah main-main teknik slow flash dengan 28mm. Kalau pakai 80mm ke atas pasti susah karena flashnya tidak sampai, dan background terkompres jadi mepet semua. Satu lagi keuntungan pakai lensa wide.

5. Manfaatkan para figuran.
Kalau motret di tengah jalan, terus ada orang mau lewat ya kasih lewat. Selain memang itu jalan umum, adanya sosok asing akan membuat frame makin padat dan kaya. Terkadang mereka bikin gerakan tak terduga yang bikin menarik, serta pula muncul cahaya bagus akan bayangan dari figuran yang lalu-lalang.
6. Tetap gunakan pendekatan street.
Tentu beda dari portrait “normal”, karena fokus dalam frame tidak melulu tentang model. Cari hal-hal yang agak berbeda misalnya pantulan cermin atau bayangan jatuh. Malah kalau perlu, sekalian saja modelnya jadikan sebagai siluet. ISO tinggi sampai noise, tak jadi soal. Serius, semakin wide lensanya semakin asyik untuk eksplorasi sesuatu yang baru. Apakah pakai 28mm bisa close up kayak pakai 80mm? ya bisa, maju aja. Tapi apakah pakai 80mm bisa jadi lebar kayak 28mm? tentu tidak. Ketika sedang bedara di tempat sempit, atau melihat langit biru awan berbaris… kamu akan bersyukur bawa 28mm.

Terus berjalan, jangan statis di satu lokasi. Anggap saja sedang hunting street, cari cahaya yang unik, berburu keramaian, momen di sekitar. Sesekali sambil candid. Dan yang terpenting, jangan terus terpaku dengan sang model, sesekali bidik ke arah lain untuk menyegarkan pikiran sembari menanti inspirasi berikutnya. Lanjut jepret, jajal angle bawah dan atas, geser posisi lagi, terus begitu sampai dapat frame yang diidamkan.
Dalam mengolah foto pun, bisa tetap dengan teknik serupa dengan foto street. Semisal, tambahkan grain, atau turunkan highlight supaya langit jadi gelap. Malah saran saya, tetap gunakan saja setingan edit street sehari-hari.

Sebagian poin berlaku juga untuk street fotografi dengan 28mm ‘kan. Ya memang ini FL untuk street, maka ketika kita pakai untuk portrait, tak salah juga jika menggunakan pendekatan street. Makanya ada istilah “street portrait”. Tapi itu kalau modelnya orang asing ya, karena “street portrait” memerlukan proses tertentu. Walau foto-fotonya di jalanan, jika bawa model sendiri, disebutnya ya portrait saja.
Setelah menguasai portrait dengan 28mm maka ketika nanti portrait pakai 50mm dan sebagainya, kamu akan merasa enteng-enteng saja. Karena portrait pakai 28mm itu lebih susah daripada 50mm. Komposisi dan distorsi, gak bisa asal-asal. Pengamatan terhadap cahaya juga jadi makin jeli, soalnya kamu tidak bisa “masa bodoh” dan memasrahkan latar belakang toh bakal bokeh. Tidak begitu, 28mm akan menempa kita jadi fotografer yang lebih peduli pada lingkungan di sekitar.
Jika diesksekusi dengan benar, portrait pakai 28mm bisa keren dan dramatis. Jangan pedulikan komentar teman awam yang bergumam “kok portrait belakangnya gak bokeh?”. Jawab saja, “Karena saya hebat soal komposisi, saya gak mau melepas latar belakang yang indah ini untuk lenyap menjadi blur…”
Toh bokeh atau tidak itu soal pilihan, bukan soal kemampuan memotret atau kesanggupan beli lensa. Ada saatnya portrait background harus blur, tapi tidak selamanya dan jelas juga tidak wajib.
Haha.




