Sendiri di Jalanan

Dua pekan belakangan, aku rajin sekali turun ke jalanan untuk memotret. Entah karena keinginan sendiri atau karena keadaan, tapi rasanya menyenangkan sekali berjalan kaki sendirian sambil menenteng kamera…

Dahulu kala, jauh sebelum segala teori street kupahami, pernah ada masa aku memotret dengan riang gembira. Mendadak perasaan itu muncul kembali, semenjak aku pakai kamera Lumix GX85. Anu, tulisan ini bukan mau membahas kameranya, kebetulan saja aku sedang pakai kamera itu, dan dulu ketika awal-awal street aku pakai Lumix GX7. Ada banyak kemiripan lah, walau tentu GX85 sedikit lebih mendingan. Secara umum ini kamera yang bagus dan layak dibeli, walau tidak spesial. Sudah aku bahas lengkap di sini.

Biasanya malam hari aku merencanakan, mau hunting ke mana esok. Bangun sih pagi, langit biru enak. Tapi jarak rumahku dari pusat kota jauh sekali, begitu sampai pasti sudah panas terik. Ini salahku sendiri karena kalau memang niat, street bisa di mana saja gak harus ke pusat kota. Keinginan foto keramaian dan kalau bisa ada wanita cantiknya masih ada, dan di sini yang seperti itu baru dimulai sore hari. Jadilah aku baru berangkat agak sorean.

Kendati malamnya sudah terpikirkan mau street ke lokasi yang baru, begitu di motor, bingung juga. Daripada gambling, jadilah ke lokasi yang familiar. Tak apa, ini baru awal. Saat tulisan ini dibuat, aku sudah non-aktifkan Instagram sekitar dua pekan. Bukan main banyak yang langsung tanya lewat WhatsApp. Ya, aku sedang ingin istirahat saja. Ingin memotret dengan riang gembira. Makanya tidak melulu aku foto cewek, maunya normal-normal saja, penuh semangat layaknya street tog yang baru pertama kali turun ke jalan.

Lantaran aku ingin memotret apa saja, kadang ingin juga mendekat kepada objek, seperti layangan putus yang tersangkut di kabel listrik atau kelelawar yang menggantung di atap bangunan runtuh – yang mana tidak pernah kusadari keberadaannya kalau hunting berdua karena kebanyakan ngobrol – . Aku hanya punya satu lensa yakni Olympus 17mm F/1.8. Ini lensa yang bagus dan dapat diandalkan. Terutama clutch manual fokusnya, ada satuan jarak. Pada kamera Lumix dan Olympus MFT, tidak ada angka meteran jarak fokus pada layarnya. Aku butuh sekali untuk memastikan, titik zone fokus akurat satu meter di depan kamera.

Ingin juga sih beli lagi lensa zoom yang agak lumayan kayak Lumix 12-35mm atau Olympus Pro 12-40mm, keduanya konstan di F/2.8. Tapi pakai lensa seperti itu seperti mematahkan tujuan awalku pakai kamera MFT. Makanya pakai Lumix GX85 supaya kecil dan ringan. Kalau mau bawa yang berat-berat, saya pakai kamera APSC atau full frame saja. Jadilah aku tetap bertahan dengan satu lensa.

selingan…

berat body GX85 : 426 gr

berat lensa 17mm F/1.8 : 120 gr

berat lensa 12=35mm F/2.8 : 305 gr

Seandainya saya bawa dua lensa, 17mm F/1.8 (120 gr) dan misalnya 45mm F/1.8 (116 gr) untuk motret sesuatu yang jauh, digabungkan bobotnya masih lebih ringan daripada sebiji lensa zoom. Pakai lensa zoom F/2.8 sangat menyiksa karena sepanjang hunting, kameranya saya tenteng terus. Saya bukan tipe yang hunting tapi kameranya di dalam tas terus. Satu lensa zoom jelas lebih praktis daripada ganti-ganti lensa fix, tapi dari segi kualitas, fix lebih mantap.

Namun juga ada satu ganjalan yang bikin saya tidak suka bawa dua lensa. Yakni perasaan ingin gonta-ganti itulah. Habis jepret, langsung kepikiran: gimana ya hasilnya seandainya kalau pakai lensa satunya lagi. Ini tidak ideal, karena hunting haruslah menyenangkan dan jangan banyak pikiran (atau bawa beban berat). Makanya, paling tepat memang bawa lensa fix sebiji saja yang ringan. Fisik tidak terlalu tersiksa, batin juga tenang, akhirnya fokus mencari momen dan membuat komposisi.

Apakah tidak apa-apa hunting sendirian? ya tentu saja tak apa. Aku ini sudah hampir sepuluh tahun di “street”, tidak ada adegan memotret yang membuatku ragu atau takut. Sekadar mendekat pada orang asing atau bahkan pakai flash sekalian ketika malam, itu sudah biasa. Walau biasanya, aku kenalan dengan teman baru di jalanan. Walau seringnya saya jadi akrab sama tukang warung atau petugas kebersihan, karena saya sok akrab daripada gak ngobrol sama sekali. Ini sulit dilakukan kalau kita hunting berdua atau malah ramai-ramai.

Gimana ya… aku tidak bisa mengeluh apa-apa. ‘Kan mentor dan motivator terbaik ya diri saya sendiri. Apalagi dalam ruang lingkup street fotografi di kota saya, haha.

Atau malah kadang ada yang kenal sama saya… gara-gara saya suka pakai jaket ungu kalau hunting di jalanan.

Yang membosankan dari hunting sendiri tuh cuma gak ada teman ngobrol. Jadinya dikit-dikit pengen duduk lalu merokok atau ngopi. Tapi positifnya, aku tidak harus berkompromi dengan siapa pun mau belok ke mana atau jalan sampai kapan. Bebas saja. Persis seperti dahulu.

Sekarang ‘kan saya pakai Apple Watch, jadi bisa lihat langkah kaki sudah berapa banyak. Lumayan lho, seharian bisa 15.000 langkah, sekitar 8KM. Kalau sengaja disuruh olahraga jalan santai, pasti malas duluan denger 8KM. Tapi karena embel-embelnya hunting foto, jadinya gak kerasa. Bener jadinya, tujuan rekreasi, terapi dan sensasi sedikit banyak kudapatkan.

Saya tak tahu ada hubungan langsung apa tidak, tapi semenjak gak main Instagram, jadi agak banyak foto saya. Dan saya menikmati sekali prosesnya. Ya mungkin suatu hari saya aktifkan lagi, ada bejibun stok foto. Namun untuk saat ini, aku hanya ingin menjelajah sendiri dan menikmati memotret di jalanan.