Kamera Fujifilm yang Agak Lumayan untuk Dibeli

Dewasa ini harga-harga kamera Fujifilm di second hand marketplace, agak-agak membingungkan. Beli baru pun harganya makin ke sini makin luar biasa, maka beli unit second hand solusi yang cukup bijak. Kendati demikian, ya harus pintar-pintar dalam memilih, terutama perbandingan spek dan fitur. Ada satu kamera yang… lumayan tidak sepopuler model lainnya, jadinya malah sangat layak untuk dibeli.

Mengapa harga unit bekas lawas Fuji jadi langka dan mahal? bisa baca artikel sebelumnya.

Model yang akan saya bahas adalah X-E3. Model ini spek identiknya adalah X-T20, sama-sama X-Trans 3 24mp. Juga serupa dengan Xpro2, X-T2 dan X100F. Namun ketiga kamera tersebut ada di level lain, begitu juga harganya. Dan walau jeroan serta fitur identik dengan X-T20, tapi penjualan X-E3 tidak sepopuler X-T20. Tidak usah bikin survey untuk mencari data, karena sudah bisa ditebak, pemirsa lebih menyukai yang bentuknya SLR viewfinder tengah dan layar lipat, daripada kamera yang kotak doang dan layarnya fix. Jangan pernah sebut X-E3 sebagai rangefinder karena memang bukan, EVF di kiri tidak berarti rangefinder euy…

Kendati dahulu saya akrab sekali dengan sistem Fujifilm, bahkan sempat menjadi bandar, namun khusus X-E3 saya nyaris tidak pernah pakai untuk pribadi. Sekadar megang untuk dijual sih sering, tapi kalau pakai ya gak pernah. Maka ketika pekan lalu saya memutuskan untuk beli lagi mirrorless Fujifilm, saya sempat riset lebih dulu. Saya ingin kamera yang harganya tujuh jutaan X-Trans 3 dan sudah 24mp (walau ini tidak penting, namun harga-harga model X-trans 2 16mp, tidak beda jauh). Pilihan ya cuma dua, X-E3 dan X-T20. Dan saya benar-benar tidak suka model X-T20, apalagi dengan masalah seputar tombol dan layar yang setiap hari ada saja yang mengeluh di grup, maka saya beli X-E3.

Dan ternyata X-E3 lebih murah. Karena tadi itu, secara desain pemirsa umum lebih suka X-T20.

Saya dapat di kondisi like new fullset, tujuh juta kurang sedikit. Itu pun masih dapat cashback Tokopedia. Walau entah sekarang sistem servisnya seperti apa, tapi embel-embel “ex resmi FFID” itu wajib ada. Karena suatu hari kamera ini akan saya jual lagi. Selaku dulu suka dapat langsung dari gudang dengan harga setengah dari ini, memang rasanya sebel banget, tapi ya mau gimana lagi.

Jangan tanya kenapa logo Fujifilmnya saya tutupi stiker.
Saya ini fanboy merangkap hater.

Ya, bentuknya seperti itu. Mirip X-E2 tapi lebih kecil. Saya baru ngeh, tulisan “Made in Japan” yang selama ini menjadi nilai kuat seri X-E, sudah berganti jadi “Made in China“, dan tentu saja tidak bisa dengan bangga ditaruh di lokasi strategis, melainkan jadi di bawah pada tutup baterai. Ini masih agak mending daripada X-E4 yang “Made in Indonesia” he he.

Tombol empat arahnya hilang. Saya harus korbankan tombol AFL dan AEL jadi ISO dan flash setting. Saya memang tidak pernah pakai dua tombol itu sih. Bahkan kalau roda exposure comp bisa dikustom, bakal saya ganti juga.

Saya pernah pakai X-E4 beberapa bulan sih pas launching, dipinjami FFID. Itu lebih parah lagi, dial yang di belakang hilang, dan juga kenop untuk ganti fokus S C M ikut raib. Oleh sebab itu, desain X-E3 masih bisa saya maklumi.

Untuk lensa, well sebetulnya aku ingin 16mm F/2.8 WR. Tapi entah mengapa sekarang harga bekasnya hampir lima juta. Dulu lensa ini cuma tiga jutaan. Lagi-lagi kejadiannya begini ya. Sudahlah, aku beli lensa yang umum saja, 35mm F/2 WR. Agak hoki dapat yang tulisannya “Made in Japan”, harusnya Philipines. Aku sudah tahu, pakai 35mm itu bakal jadi 53mm dan repot untuk street. Tapi ya gampanglah, nanti beli lensa lain.

Kesan “debut” pakai Fuji… hm… yang saya dambakan adalah JPEG film simulasi dong. Astaga RAWnya 50mb, dan kalau motret RAW + JPEG, itu data film simulasinya ikutan masuk ke RAW, jadinya makin berat.

Kamera ini tidak ada IBIS. Ya… karena saya biasa motret pakai Olympus, yang tiga jutaan pun sudah 5 axis, jadinya gimana gitu ya. Lalu juga kebiasaan pakai Olympus tersebut yang bikin… JPEG Fuji terlihat biasa saja. Kalau pakai film simulasi ya warna Fuji terlihat lebih jreng, namun kalau sama-sama netral (atau Provia), malah bagusan Olympus ah. Apalagi untuk saya yang ujung-ujungnya bakal ubah warna foto jadi hitam-putih, apalah artinya segala resep film.

1/30″, tidak bisa lebih lambat dari ini karena tidak ada IBIS dan lensa pun tanpa OIS

Saya bandingin dengan E-M5 II dan Pen F, yang harganya mirip. Di bawah ini adalah komparasi motret orang yang sama dengan FL sama dan kondisi cahaya yang mirip-mirip. Teknik mengolah monokrom saya tidak berubah dari dulu, sama.

Menurut kalian bagusan mana? yang mana yang DR lebih terangkat ketika lawan matahari sore dengan flash bawaan? (foto Olympus agak curang karena subjek pakai baju putih, tapi detailnya… kalau masalah flash bonus bawaan kamera bagusan Olympus, ya salahkanlah Fuji kenapa ngasih flash yang lemah…)

Tentu saja dengan FL yang sama, hasil Fuji lebih bokeeeh, itu fisika, ukuran sensor. Tapi skin tone, sangat bisa diperdebatkan saya megang Olympus. Lalu dengan preset yang sama, file fuji hitamnya jauh lebih hitam. Ini bisa lebih bagus, bisa juga lebih jelek, bergantung suasana dan selera.

Harap maklum, setahun belakangan saya selalu pakai Olympus, dan model-modelnya sudah menjadi standar untuk komparasi value sebuah kamera.

Saya teringat kalau pakai E-M5 II, suka bawa baterai tiga biji kalau hunting. Tapi ujung-ujungnya satu pun gak habis. Ini pakai X-E3, dua baterai sudah pasti habis sebelum hunting usai. Saya tidak berencana pakai kamera ini lama-lama, jadinya beli baterai cadangannya Kingma saja jangan Wasabi, biar murah.

Sisanya, pengalaman saat motret sih ya gitu-gitu saja. AF saya rasa setara dengan E-M5 II. Tapi kalau Fuji enak bisa ganti F di lensa. Kamera ini layarnya touch sensitif tapi entah mengapa, sekadar tap titik fokus saja delay betul, tidak sat set macam Lumix atau Olympus. Akhirnya saya matikan touch screen, pakai joystik saja.

Kamera ini tidak ada flashnya, tapi dikasih flash EF-X8 yang tidak bisa diputar-putar. Recharge time astaga sekitar semenit. Kayaknya beli flash external adalah wajib, flash bawaannya gak asyik.

Hasil fotonya… ya bagus, sudah seharusnya. Saya merasa sensor X-Trans 2 lebih menyenangkan, tapi itu pendapat pribadi saja. Dengan lensa ini, saya sulit memaksimalkan potensi kameranya karena 50mm bukan FL favorit saya. Mungkin nanti kalau pakai 16/2.8 atau 18/2 saya bakal lebih bahagia.

Apalagi ya?

Apakah kamera ini layak dibeli? sudah pasti. Daripada X-T20 mending ini. Xpro2 dan X-T2 harganya jauh di atas ini, X100F apalagi… jangan ditanya. Kalau memang kamu harus beli Fujifilm apalagi dengan budget terbatas, saya rasa sangat layak. Dan ini adalah model paling worth it di antara Fuji lainnya di harga segitu.

Kalau buat dipakai, bukan dijual ulang, Olympus E-M5 II jauh lebih murah dengan fitur lebih lengkap, feel malah lebih premium. Pen F juga lebih oke. Lensa-lensa MFT pun jauh lebih terjangkau. Saya kenal beberapa fotografer senior yang pindah dari Olympus ke Fuji dan foto-foto mereka malah jadi menurun. 

Namun kalau kamu suka motret JPEG penuh warna, ya ambil Fuji. Kalau lagi motret cewek, bisa pamer hasil dan sang cewek bakal terpukau. Suatu hari dijual lagi pun, relatif gak pakai lama karena kekuatan brand. 

Well yeah, saya merekomendasikan kamera ini. Tapi di kesempatan berikutnya, kalau pakai uang sendiri, saya akan beli Olympus Pen F. Malahan kalau beli E-M5 II, ada kembalian untuk beli lensa fix.

X
Facebook
WhatsApp
Email
Pinterest
Telegram