Baru kali ini aku beli kembali kamera yang sudah kujual. Benar-benar unit yang sama!
Ini tentang Nikon Coolpix A, kamera yang sekitar tiga bulan lalu kujual. Pernah kutulis dua artikel tentang kamera ini. Ya walau banyak kelemahannya, tapi aku suka dengan kamera ini. Alkisah saat itu, sahabat saya yang bernama Mas Nanung menanyakan pada saya apakah kameranya dijual. Sebetulnya sih aku tidak punya niat ganti kamera, karena bingung lagi ganti jadi apa.
Namun karena dia itu sahabat saya, dan pernah dua kali ngasih saya Ricoh GR Limited Edition dengan harga yang sangat baik, maka saya setuju. Di tangan dia kameranya pasti dirawat, dia juga fotografer casual sambil berangkat-pulang kerja. Makanya, saya setuju buat lepas ke dia, tapi dengan satu syarat… yakni, ketika nanti dia punya niatan menjual kamera itu, dia harus lapor dulu ke saya. Bukan untuk minta komisi, melainkan seandainya saya bersedia membeli lagi, maka saya diprioritaskan. Ya seperti dulu lah pas Alvaro Morata dibeli balik sama Real Madrid dari Juventus.

Intinya aku jual padanya seharga saya beli. Aku tidak ambil untung, tapi juga jangan rugi dong… haha. Setahu saya, itu adalah satu-satunya Coolpix A di pasaran Indonesia. Sudah deh aku jual, kemudian aku belikan Olympus E-PL8 dan lensa 12mm F/2. Kurang lebih harganya setara dengan hasil penjualan Nikon.
Eh baru juga dipakai hunting sekali, kamera saya ditaksir sama kawan Pak Sambara yang kebetulan ikut dengan dia hunting di Bandung sama saya. Ya sudah, apa sih yang enggak. Pada akhirnya, aku beli Lumix GX9. Kamera yang sudah lama saya inginkan.
Sejujurnya tidak ada yang salah dengan GX9. Itu adalah kamera yang sangat bagus, dan mungkin terlalu bagus untuk gaya foto saya yang begini-begini saja. Tapi entah mengapa – ya walau untuk ukuran mirrorless, GX9 itu termasuk kecil – namun rasanya kebesaran buat saya, mana warnanya silver jadinya agak mencolok di jalanan. Belum lagi lantaran aku terbiasa pakai kamera dengan “leaf shutter”, jadinya kalau pakai mirrorless rasanya berisik sekali. Untuk banyak situasi, aku merasakan banyak keuntungan pakai GX9, namun di sisi lain aku sangat merindukan pakai kamera kompak.
Sempat aku beli digicam yang ngehits (masih punya sih). Okelah kamera itu kecil sekali, sekadar untuk portrait atau nyetrit yang mudah, bisa-bisa saja. Tapi untuk street kecepatan tinggi apalagi pakai flash, wah tidak bisa.

Aku ambil keputusan, aku jual GX9, terserah apa gantinya gimana ntar. Kalau perlu untuk sementara pakai digicam saja, pokoknya saya ingin balik ke kamera kecil. Dan tidak ada yang berubah, opsi paling logis ya Ricoh GR II , Fuji X70 atau Coolpix A. GR II sekarang bekasnya sudah nyaris sepuluh juta! dan walau secara fisik, GR II itu susah sekali untuk lecet makanya selalu terlihat baru, namun secara dalaman dia kalau sudah kotor sensornya bakal menjadi bom waktu, suatu hari lensanya bakal stuck dan mahal sekali betulinnya.
X70 saya lihat sudah jarang yang mulus, grip depannya memang karet motif kulit jeruk, makin lama makin rata dan kusam. Dan ya memang tidak ada juga di Tokopedia. Lagian aku gak mau ah pakai kamera dari brand yang kalau bikin lomba suka curang. Maka pilihan tersisa hanya Coolpix A, dan satu-satunya orang yang punya kamera ini ya… Mas Nanung.
Saya tanya ke dia, mau dijual lagi gak… haha. Oh iya, dia pernah cerita kameranya jatuh sekali sampai dent kecil. Tapi secara fungsi tetap normal. Saya sangat percaya cerita dia, karena selain orangnya jujur, juga Coolpix itu memang seperti batu bata… Made in Japan.
Rupa-rupanya memang dia berencana pasang di Tokopedia. Kalau ke orang lain, bakal dijual tujuh juta. Tapi kalau ke saya lima juta saja, itu pun barangnya dikirim duluan dan saya boleh tes sepuasanya berpekan-pekan sampai yakin bahwa “pernah jatuh” itu tidak bikin ada yang rusak, barulah saya duitin. Wah luar biasa baik ‘kan. Saya setuju, dan minta waktu beberapa hari, soalnya aku baru beli Lumix GF3 pekan itu… (ya karena ingin kecil dan murah, tapi shutternya berisik banget)
Akhirnya walau banyak yang siap check out tanpa nego di Tokopedia, Mas Nanung melepas kameranya ke saya. Sangat aku apresiasi, memang begitulah lelaki, pegang omongannya. Sejati… haha.
Dan ya… kameranya sekarang ada di tangan saya, langsung saya pakai Sabtu motret… tentu sudah langsung saya bayar, gak usah nunggu pakai dulu beberapa pekan. Gak sopan itu, kalau sudah dikasih kepercayaan harus sat set haha.
Saking agak lupa sama sistem kamera ini, sehari sebelum kedatangan saya harus baca review yang saya tulis sendiri haha. Saya pakai motret konvoi juara Persib, bukan main nyaman.
Begitulah… aku pakai kamera kecil nan mematikan lagi. Apalagi sekarang ini di lokasi-lokasi nyetrit, bertebaran orang-orang yang pakai digicam. Coolpix ini ‘kan dari segi fisik terlihat seperti digicam biasa, walau mesin dan sensornya jauh lebih mapan. Positifnya, aku bisa terlihat lagi seperti turis atau noob. Padahal ya emang noob…
Aaah… auto fokusnya lambat, meteran zone focusnya reset kalau kameranya mati, mana layarnya gak menampilkan eksposur sesungguhnya pula. Tapi aku sudah tahu kok, dan semua kejengkelan itu hilang ketika aku edit RAW fotonya di laptop. Memang gak ada obat. Palingan aku harus beli satu lagi baterai, soalnya sejak berpisah, kamera ini bertambah tua beberapa bulan dan kondisi baterainya tidak sebaik saat pertama. Sayang sekali tidak ada Kingma bikin baterai untuk kamera ini, terpaksalah beli Wasabi yang agak mahal tapi ya mau gimana lagi.
Suatu hari, aku pasti rindu pakai Lumix atau mirrorless lain. Tapi aku bertekad, kalau mau beli ya beli saja gak usah jual dulu yang ini. Soalnya ibarat satwa liar, ini sudah terancam punah. Sekali saya lepas, bakal susah lagi dapat kamera serupa. Terlebih aku sudah tahu arah memotretnya bakal seperti apa, dan memang kamera kecil seperti inilah yang paling cocok untukku.
Ah… senangnya.




