Akan kuberitahu sejarah dan rahasianya…
Hubungan saya dengan kamera Olympus cukup campur aduk sebetulnya. Walau jarang secara tertulis aku mencantumkan kamera apa yang dipakai saat memajang foto, tapi dalam berbagai video ‘kan sudah jelas bahwa aku pakai Olympus. Bagus juga sih, biar gak ditanya-tanya terus.
Tapi selalu saja ada yang minta pendapat, kamera bekas apa ya yang layak, yang menang banyak, yang ini yang itu. Tak pernah ragu sih aku rekomendasikan Olympus. Kenyataannya memang begitu kok… dari parameter apapun, kamera second Olympus memang paling worth it dibanding brand lain. Ibarat motor, ya Suzuki lah… kamu enam juta bisa dapat Satria F yang masih solid sehat dan ngebut banget. Orang tahu kok itu brand motor yang sangat bagus, namun dengan berbagai pertimbangan tetap tidak dibeli.
Kemarin kawan saya Carl menjadi “korban” terbaru dari bisik-bisik saya untuk gaet Olympus. Saat promo Shopi, dia dapat E-M10 III cuma empat juta. Kondisi mint dan fulset. Mana ada lagi sih kamera harga segitu sudah bisa video 4K, 5 axis IBIS, dan kenikmatan memotret. Jujur, saya hanya ingin memberikan saran terbaik supaya jajan kawan saya terasa bernilai.

Bahkan si Daniel sejak saya kenalkan pada MFT, sudah beli empat bodi dan beberapa lensa. Tindakan saya tidak bikin Olympus jadi kaya, sebab yang dibeli adalah unit bekas. Lagipula saya tidak ingin Olympus jadi kaya, sebab saya gedeg dengan cara marketing mereka haha.
Dan sayangnya yang layak dan menang banyak memang unit bekas. Di bawah sepuluh juta, okelah. Kalau benda-benda baru seperti PEN atau OM-3, jujur saja… kemahalan. Bukan tidak bagus, tapi mahal. Tentu jika dibandingkan dengan kamera sensor full frame, akan selalu kalah… bodi OM-3 35jt, duit segitu bisa beli Lumix S5 II dan lensa premium dua biji. Walau sensor bukan pertimbangan utama saya, tetap saja itu merupakan dasar pemikiran banyak orang sebelum memilih kamera. Ibarat motor, ini mesinnya 125cc tapi harganya 250cc.
Tapi kalau lawannya APSC, nah saya masih mau lah membela Olympus. Dibanding Fuji X-T berapapun, masih bagusan OM-3. Sialnya, masih saja OM-3 lebih mahal.

Sejarah saya pakai Olympus dimulai tahun 2016. Sebelum itu saya selalu pakai Lumix. Walau kata orang mendingan Olympus, tetap saja susah sebab kamera Olympus jauh lebih mahal. Namun pada akhirnya aku mencoba yang agak murah yakni E-M10. Itu adalah sebuah pertaruhan sebab saya rela melepas Fuji X-T10 yang enak banget, demi coba Olympus.
Saya ingat betul, belinya malam-malam ke rumah gedongan seorang kokoh… sepuluh juta dapat bodi E-M10, serta lensa 17/1.8 dan 45/1.8. Esoknya itu 45mm saya jual sebab terlalu close up, saya ‘kan full street.
Timingnya terasa sangat… monumental. Seiring aku debut Olympus, aku pun mulai memotret RAW serta edit pakai Silver Efex Pro. Kendati JPEG Olympus sudah sangat matang dan bagus, tapi foto saya ‘kan hitam-putih.
Akhirnya. Juga aku teringat, periode itu adalah masa keemasan post foto street di Instagram. Sering aku melihat street fotografer kawakan seperti Chris Tuarissa dan Sam Bara pakai Olympus. Pun saat itu, Instagram Olympus masih bernama Olympus OCCI ID. Asal foto kita bagus, apapun genrenya pasti mereka pantau dan apresiasi kok. Beberapa kali foto saya difitur di halaman mereka.

Setelahnya… hampir setiap seri aku coba (kecuali E-M1, jujur saya gak suka bentuknya). Mulai dari E-PL, PEN biasa, PEN F, dan bahkan awal tahun ini aku beli E-P7 yang hanya dijual di Jepang. Namun dari semua seri, yang paling kucinta adalah E-M5. Lebih tepatnya E-M5 II. Wah sudah berapa kali tuh, tiap jual baliknya ke kamera ini… bahkan sekarang saya punya empat biji, satu dipakai dan tiga di dalam box, untuk persediaan di masa depan.
Jujur dengan pakai MFT (atau Olympus), aku tidak kehilangan apa-apa sih. Klien? gak butuh. Saya ini seniman sejati. Bokeh? ah… apa pula itu. Kalau mau, ya bisa. Toh bagi yang paham, bokeh itu bukan seberapa blur, melainkan kualitas blur. Pakai saja lensa Nocticron atau 45mm Pro, udah bokeh creamy kayak mentega Wisman. ISO dan noise? itu pun saya tidak berhadapan langsung, sebab flash adalah trademark foto saya.

Walau dari segi produk, tidak ada yang salah (kecuali harganya untuk seri baru), tetap saja ada perasaan kesal dan khawatir.
Pertama. Service center bisa dibilang… ya tanggung sendiri lah. Oh iya, untuk seri lama Olympus, jika kamu beli bekas, hampir pasti 80% tanggal jam akan reset saat baterai dilepas. Umum dikenal sebagai baterai CMOS, walau ya rasanya kurang tepat juga sebab baterai CMOS bisa diganti, sedangkan di Olympus pakai konverter dari baterai utama langsung ke mainboard. Singkatnya, itu sudah disolder langsung. Walau input tanggal tuh hanya semenit, tetap saja merepotkan. Bahkan pada kasus tertentu, tidak mesti cabut baterai… bahkan sekadar off sejenak pun, bisa reset.
*catatan : pada Olympus, Lumix, Sony, Canon, Nikon dan mungkin semua brand kamera selain Fuji, yang reset hanya tanggal dan jam – setingan lain aman. Khusus Fuji, reset semuanya dari nol. Ya, sekadar untuk diketahui saja.
Kedua. Citra yang dibangun brand itu sendiri, terutama di sosial media. Ibaratnya begini… apa kamu mau beli motor sport fairing tapi iklannya itu motor dipakai ngangkut gabah?
Itulah yang entah mengapa dilakukan oleh OM System. Seingat saya pas masih Olympus, normal-normal saja… mau street, portrait, lanskap, semua dia notice. Sejak jadi OM System, dia benar-benar memaksakan secara spesifik hanya post makro, burung, atau mentok-mentok gunung lah. Mungkin mau meniru Ricoh yang image dalam benak pemirsa sudah tertanam GR itu adalah kamera street. Tapi ayolah… berapa persen sih fotografer yang HANYA memotret hal-hal itu.
Ini gila. Mau sebagus apapun foto kalian dengan kamera Olympus, jika bukan dari genre di atas, mereka tidak akan mau fitur atau repost. Sangat tidak logis… padahal dari sekian ratus lensa MFT yang ada di pasaran, berapa persen sih lensa makro atau tele? tidak sampai sepuluh persen! sisanya adalah lensa multi purpose, artinya masih banyak genre lain, kenapa pula mereka hanya mengakui tiga genre.
Ini sama gilanya dengan Lumix beberapa tahun lalu yang hanya menyorot vlog dan video sinematik. Sekarang sih mereka sudah tobat, makanya maju. Olympus sebaliknya, malah melangkah mundur. Saya berani bertaruh, penjualan ketika era OCCI pasti jauh lebih banyak daripada era sekarang. Sudah harganya salah, marketingnya pun aneh.
Makanya kadang saya ketemu sesama tukang foto di jalanan, ketika dia lihat kamera saya Olympus, langsung ditanya “itu bukannya kamera untuk foto tawon ya?”

Jujur saya malu, dan cenderung jadi anak tiri. Makanya suka saya tutup lakban itu logo Olympus. Saya merasa berat hati membawa brand yang sama sekali tidak mewakili semua penggunanya. Selama masih ngotot maksa genre, untuk alasan itu saya akan menolak jika mereka mengundang saya jadi influencer. Saya yakin saya ini si paling Olympus dibanding 99% user lain, namun tetap saja saya adalah domba yang tersesat sebab tidak motret burung atau serangga.
—–
Itulah. Cintai saja produknya, jangan mereknya. Dalam hemat saya, beli kamera Olympus tahun lama tetaplah sangat layak. Tidak perlu jadi fanboy buta apalagi menyumbang uang untuk perusahaanya. Padahal aku sangat rela mempromosikan Olympus, tapi brand itu sendiri yang seperti melarang orang untuk membeli. Jika ada orang Olympus baca tulisan ini, saya siap memberikan masukan.

