
Sampai Kapan Begini Terus?!
Sekitar tahun 2015-16, aku lagi seneng-senengnya turun ke jalan. Hampir tiap hari nyetrit. Kameranya pakai Ricoh GR II, motretnya stranger

Sekitar tahun 2015-16, aku lagi seneng-senengnya turun ke jalan. Hampir tiap hari nyetrit. Kameranya pakai Ricoh GR II, motretnya stranger

Aku percaya, ketika kita merindukan satu sosok, sebetulnya kita bukan sedang rindu pada orangnya, melainkan pada kenangannya. Maka yang terburuk

Aku merasa tidak enak sebenarnya kalau membuat tulisan semacam ini. Dalam “The Book of Street Portrait vol 2”, aku sendiri

Aku ini aslinya street fotografer. Jadi selalu memotret di jalanan. Kemudian berkembang dikit-dikit untuk street portrait orang asing. Lantas setelah
Dewasa ini aku gemar lagi mendatangi acara cosplay. Minimal dua pekan sekali, apalagi kalau acaranya digelar di mall yang rada
Ini tengah malam hampir dini hari. Kepala saya pening, hal yang sangat tidak kuinginkan, terjadi juga. Setiap tindakan bakal menghadirkan
Kami bertiga duduk di cafe yang masih saja panas walau sudah ada AC, serta harga di menunya kelewat mahal dibanding
Situasi jualan semakin bagus, barang juga semakin banyak. Dari asalnya saya idealis hanya mau menerima kamera Lightning khusus varian sensor
Alkisah awal tahun lalu, saya dihubungi oleh akun resmi sebuah brand kamera dari negara Inazuma. Konon untuk mencoba sekaligus memberi

Sering saya lihat teman repost “lomba / challenge” foto di Instagram, tapi tak pernah tertarik ikutan. Kalau ditanya sih, jawabannya