Belakangan ini saya sering menemukan gerakan hunting bareng yang dinamai sesuai hari dilakukannya. Tapi jarang sekali melihat yang bawa-bawa hari Sabtu, padahal ‘kan…
Mesti dipertanyakan dasar pemikirannya, Selasa atau Rabu pada turun ke jalan, sedangkan Sabtu kok tidak. Padahal jauh lebih ramai. Haha. Saya suka sekali motret hari Sabtu terutama malam hari. Ah itu cuma dalih saja karena saya sedang tidak punya teman kencan. Makanya hunting saja lah, mau sendirian atau bersama warga binaan, sama saja, yang penting kamera jangan sampai membeku.

Baru beberapa bulan belakangan sih aku kembali rutin dan wajib turun ke jalan setiap Sabtu. Sebelumnya aku terjebak keharusan datang ke event-event wibu Jejepangan. Tapi tenang, saya sudah sembuh. Bayangkan, ada anekdot bahwa titik terendah seorang lelaki itu kalau sudah beli rokok merek gak jelas. Nah, bagiku titik terendah seorang fotografer itu adalah susah payah datang ke event wibu Jejepangan hanya untuk berakhir memotret cosplayer yang terus-terusan pakai masker karena malu kalau ketahuan tetangga atau teman sekolahnya.
Tapi memang untukku, hunting di Sabtu sore hingga malam itu terasa sangat cocok dan ideal. Berangkat sore, jelajah sampai lelah dan dapat banyak foto. Pulangnya sambil nonton Tottenham di TV, aku edit foto-fotonya. Minggunya, di kala kota sepi dan tenang, portrait sewa model yang unyu unyu.
Idealnya begitu, tapi kenyataannya tidak selalu. Kadang lelah duluan karena macetnya minta ampun. Foto yang didapatkan juga minim. Sudah gitu, si Tottenham mainnya kecepetan jadi aku gak sempat nonton karena masih di jalanan. Eh Minggunya pun tak ada model untuk diajak berkelana… aaaah.

Ya, begitulah hidup, tidak selalu sesuai rencana ‘kan. Namun itu asyiknya. Lagipula, saya memotret tiap Sabtu dan hampir pasti di Braga pun, sudah di luar rencana. Dahulu kala sebelum pandemi zombie, aku motret tidak memandang hari karena sepanjang pekan, tingkat keramaiannya sama baiknya. Sehabis pulang cari duit, tinggal mampir lalu parkir di mana saja lanjut nyetrit, pasti dapet foto. Sekarang agak susah, daripada konyol tidak dapat foto lantaran hunting saat week day, mendingan aku efektifkan dibikin padat khusus di satu atau dua hari akhir pekan.
Saya kalau lagi nyetrit, suka ada yang kenal dan menyapa. Padahal saya ini tidak pernah menampakkan wajah di sosial media. Entah bagaimana. Dahulu pernah ada serombongan dari Jakarta, mengenali saya hanya karena saya pakai Olympus Pen F. Memangnya di seantero Bandung yang punya Pen F saya doang ya? haha.
Bagaimana pun, Sabtu saatnya orang berlibur. Maka sering pula ada warga binaan dari luar kota yang melipir ke Bandung. Biasanya mereka japri, ngajak ngopi dan hunting. Selama saya sehat, bakal saya temani… karena bagaimana pun, mereka ada di Bandung dan langsung inget sama saya, itu sudah harus diapresiasi. Malah bukan cuma hunting street, pernah ada yang minta diajak nude art kayak Daido haha. Saya dibayarin, saking ngebetnya dia.

Pada akhirnya semua pengorbanan macet-macetan menerobos kota di malam Minggu, ya salah saya sendiri. Kenapa harus fotonya kepadatan manusia, dan utamanya wanita cantik. Kalau saja mau foto street yang normal-normal saja, kapan pun di mana pun jadi. Saya ini fotografer paling tidak efisien… sekali hunting paling banyak cuma jepret sepuluh kali, itu pun yang dipakai paling dua biji. Dengan biaya bensin, makan, rokok, parkir dan sebagainya yang sekitar Rp100.000, maka modal untuk satu foto yang saya pajang tuh Rp50.000 haha. Dalam hal ini saya mengakui kecakapan para fotografer jalanan tele random Lightroom asal Jakarta yang sekali hunting bisa ratusan foto… haha.
Ah… sampai jumpa Sabtu depan. Di lokasi yang kamu tahu.

